SELAYANG PANDANG “Sejarah Jemaat GPM Rehoboth”
Tak mungkin kita dapat mencintai negeri dan bangsa ini,
jika kita tidak mengenal sejarahnya.
Tak mungkin kita dapat mencintai jemaat dan gereja ini,
jika kita tidak mengenal sejarahnya.
Hari ini, 10 Juli 2025, tepat 121 tahun Jemaat GPM Rehoboth:
Satu Abad, Satu Dekade, Dua Puluh Satu Tahun
Jemaat Rehoboth berdiri sebagai Jemaat Mandiri
di Lingkungan Gereja Protestan Maluku.
Karena itulah, kita semua: oma, opa, ibu, bapak, anak, remaja, pemuda pemudi; generasi dari para leluhur, ya, kita sebagai “Tubuh Kristus” yang terhimpun dalam gereja, khususnya Jemaat GPM Rehoboth, bersenandung ria dengan syukur atas kemurahan Yesus Kristus-Tuhan dan Kepala Gereja. Marilah kita semua mendengarkan sepenggal karya Agung Tuhan yang menyelamatkan, sekaligus bercermin dari Kehadiran, Pertumbuhan, dan Pelayanan yang telah, sedang dan akan terus berlangsung dalam jemaat GPM Rehoboth di lingkungan Klasis GPM Pulau Ambon.
Pada 17 Februari 1796 Gubernur Alexander Cornabe menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada Rainier. Pendudukan dan penguasaan wilayah ini berlangsung sepanjang beberapa abad hingga kekristenan terpintal rapih dengan berbagai kepentingan bagaikan “dua sisi mata uang”. Itu sebabnya kehadiran dan pertumbuhan jemaat-jemaat Kristen, termasuk Jemaat GPM Rehoboth, berlangsung dalam rentang waktu yang panjang; berbelit dan sulit, seperti benang kusut yang sulit diurai. Sampai akhir abad ke-18, beberapa jemaat di Kota Ambon telah terpetakan menjadi jemaat berbahasa Belanda yang terdapat dalam benteng Nieuw Victoria, dan jemaat-jemaat berbahasa Melayu yang ada pada komunitas sosial di sekitar benteng. Jemaat-jemaat di luar benteng itulah yang kelak dikenal dengan nama WIJK (baca: weik) yang berarti bahagian atau wilayah, sehingga dikenal Wijk Bethania, Wijk Silo, Wijk Bethel. Jemaat-jemaat bahagian ini baru berubah dan terbentuk sebagai jemaat, sekaligus ditetapkan sebagai tanggal kemandirian pada awal tahun 1900-an. Jemaat bahagian Bethania terbentuk pada 25 Maret 1902, Jemaat bahagian Silo terbentuk pada 15 April 1903, Jemaat bahagian Bethel terbentuk pada 29 Mei 1904. Sedangkan, Jemaat Bahagian Rehoboth terbentuk pada tanggal 10 Juli 1904.
Dua dekade kemudian, ketika Ambon pada tahun 1926 dijadikan Kota Praja yang dipimpin oleh seorang Walikota, maka tiga jemaat pertama itu dimasukkan menjadi bagian wilayah Kota Praja, kini Kota Ambon. Sedangkan Jemaat Rehoboth dimasukkan menjadi bagian dari Pulau Ambon. Maka dapat dipahami, ketika gereja di Maluku melepaskan diri dari Indische Kerk (baca: indise kerk) menjadi gereja mandiri pada tanggal 6 September 1935, GPM telah memiliki enam Klasis, termasuk Klasis Pulau Ambon, jadi, Jemaat Rehoboth termasuk dalam Klasis Pulau Ambon.
Sejalan dengan perkembangan Kota Ambon, lambat-laun di daerah pinggiran hadir jemaat Batugantung yang warganya berasal dari Pulau Lease, Seram, dan Buru; juga berasal dari negeri-negeri sekitar seperti Amahusu, Eri, Seilale, Latuhalat, Seri dan Siwang. Kendati dalam jumlah relatif sedikit, namun dibangun satu gedung gereja sebagai tempat ibadah. Chris de Jong mencatat di daerah Batugantung terdapat 111 orang pada tahun 1905. Untuk ibadah Minggu dan kegiatan gerejawi seperti pernikahan, pelayanan sakramen, sidi, dll., dilakukan pada gereja-gereja terdekat, terutama di gedung gereja Silo dan Gereja Besar.
Lama-kelamaan, daerah Batugantung berkembang seiring dengan pembukaan pos tentara Belanda, kantor pemerintah Hindia Belanda di daerah Benteng dan Talake, pembukaan Sekolah Pendeta Pribumi yang berlokasi di Batugantung, kemudian diikuti dengan berbagai fasilitas lain, menyebabkan warga jemaat kian bertambah dengan ragam profesi seperti pegawai kantor pemerintah, dosen, guru, pemangkas rambut, pencuci pakaian, penjual di pasar, papalele, dll. Maka dibangun satu rumah ibadah darurat yang berlokasi di samping gedung gereja Katolik “Hati Kudus Yesus” dengan nama gereja Imanuel yang berarti “Allah Bersama Kita”, namun orang Seri menyebutnya “Gereja Namu-Namu” (karena tumbuh banyak pohon Namu-namu di sekitarnya), yang dipimpim oleh pendeta pertama: Pendeta Cornelis Pastora, jebolan Stovil Ambon.
Karena perkembangan yang sulit dibendung, dan oleh kesepakatan pimpinan dan seluruh warga jemaat, maka direncanakan untuk dibangun gedung gereja representatif berukuran 300 m2 (20x15m) yang peletakkan batu pertamanya berlangsung pada tahun 1922. Lima tahun kemudian barulah gedung gereja ini diresmikan dengan nama REHOBOTH oleh Pendeta Pribumi Julius Sitaniapessy pada tahun 1927. Sejak itu, pelayanan gereja ditata, diorganisasikan dan ditingkatkan, sehingga daerah pelayanan makin luas, sampai terbentuk Badan Majelis Jemaat hasil pilihan warga jemaat pada tahun 1928. Kala itu, pelayanan jemaat masih dilakukan dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu, digunakan buku nyanyian gerejawi Mazmur dan Tahlil, Dua Sahabat Lama yang diiringi dengan paduan suling Waterfal yang kelak berganti nama menjadi Paduan Suling Verloren Zoon Batugantung, Paduan Suling Benteng, dan Paduan Suling Kudamati yang anggotanya berasal dari Wainitu dan Air Putri. Mereka melayani pada ibadah minggu, maupun ibadah anak dan remaja, pemuda, kaum ibu, dan kaum bapak.
Tidak pernah terpikirkan oleh seorang pun, bahwa Jepang bisa sampai di Maluku. Sangat tragis, karena pada masa pendudukan Jepang sejak tahun 1942 hingga 1945, konstruksi masyarakat dan pemerintahan yang telah terbangun mengalami perombakan. Di masa ini Jemaat Rehoboth mengalami masa kelabu, semua kegiatan gereja diawasi secara ketat oleh penguasa Jepang, para pejabat dan warga jemaat yang dicurigai dan kedapatan berpihak pada Belanda dijatuhi hukuman berat, malah ada yang sampai hukuman mati. Semua naskah khotbah disensor, gedung gereja Rehoboth digunakan sebagai tempat penampungan logistik perang, doa-doa dipanjatkan kepada Sang Khalik untuk mendukung tentara Jepang demi memenangkan perang Asia Timur Raya melawan Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Australia dan Zelandia Baru. Banyak bangunan sipil hancur, termasuk kantor sinode, sekolah, gedung gereja pusat, dan beberapa gedung gereja lain. Pemboman demi pemboman terjadi dan menghancurkan banyak bangunan permanen di Kota Ambon, hanya sedikit yang tak tersentuh seperti gedung gereja Rehoboth, dan gedung sekolah Stovil di Batugantung.
Kendati selama pendudukan Jepang, pelayanan jemaat nyaris terhenti, namun umat Tuhan masih bersyukur karena ada pendeta Jepang yang membantu memulihkan hubungan gereja dan penguasa Jepang. Sejumlah pejabat gereja dan anggota jemaat yang dicurigai melakukan pelanggaran, dapat diselamatkan melalui Nota Pengampunan dari Pdt. Hanafusa yang disampaikan kepada petinggi Polisi Rahasia Penguasa Jepang. Ketika frekuensi pemboman yang dilakukan Sekutu menurun, disusul kehadiran tentara Sekutu yang melucuti tentara Jepang, maka berakhirlah penguasan Jepang di Ambon pada tahun 1945. Jemaat Rehoboth dan gereja-gereja pada umumnya patut pula bersyukur karena justru pendudukan Jepang yang mengajar gereja-gereja untuk hidup mandiri dalam arti yang sesungguhnya.
Namun, pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, kembali gereja dan jemaat mengalami masa transisi dan frustasi berat yang ditandai oleh beberapa pergolakan eksternal di bidang sosial, politik dan ekonomi-keuangan berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di tingkat nasional, di tingkat regional menyangkut Indonesia Timur dan lokal menyangkut Maluku. Serta pergolakan internal GPM yang ditandai semangat demokrasi, kebebasan mengutarakan pendapat dan persamaan hak semua orang telah menghapus suasana lama yang hirarkis, diskriminasi, dan ketidakbebasan.
Kenyataan demikian menimbulkan berbagai ketegangan, sampai lahirlah Pesan Tobat 1960 yang berisi pengakuan pejabat GPM terhadap penyimpangan dari sikap hidup kristiani, sekaligus pengakuan terhadap pimpinan Roh Kudus di tengah ketidakpastian, dan kesediaan diri untuk dibarui oleh Roh Kudus dan Firman Allah.
Lahirnya Pesan Tobat 1960 merupakan titik balik dalam sejarah GPM menuju pembaruan, seperti pembaruan Liturgi, pembaruan teologi Alkitab dan homiletik, pembaruan kelembagaan, pembaruan teologi gereja, peningkatan kualitas hidup bergereja dan berjemaat, pembaruan teologi gereja tentang Roh Kudus, pembaruan pekabaran Injil dan pembaruan pendidikan teologi. Imbas dari Pesan Tobat itu, jemaat Rehoboth mengalami perubahan dan kemajuan. Dibentuklah unit pelayanan yang mencapai 54 unit: 10 unit di Wijk Talake, 15 unit di Wijk Benteng/Air-Salobar/Taman-Makmur, 16 unit di Wijk Kudamati/RSU/Wainitu (Kumatu) dan 13 unit di Wijk Batugantung. Terjadi peningkatan pelayanan kepada anggota jemaat yang meliputi kelompok anak remaja, pemuda, perempuan, Laki-laki, juga katekisasi dll.
Laju pertumbuhan dan perkembangan jemaat Rehoboth terus mengalami perkembangan yang pesat dimana pada tahun 1982 tercatat jumlah anggota jemaat sebanyak 17.172 jiwa dengan luas wilayah pelayanan 72 HA. Wilayah pelayanan terbagi dalam 6 wijk yaitu; wijk Batugantong, wijk Kudamati, wijk Tanah Lapang Kacil, wijk Wainitu/OSM, Wijk Benteg dan wijk Air Salobar/Taman Makmur. Dan dilayani oleh 5 orang pendeta yaitu; Pdt.J.D.Pattipeilohy, Pdt.W.Parijama, Pdt. M.Komul, Pdt. Z. Sahetapi, dan Pdt. J. Takaria, dengan jumlah Majelis Jemaat sebanyak 54 orang, dengan didukung oleh 332 orang kordinator unit dengan jumlah unit sebanyak 72. Mencermati dinamika pelayanan demikian, dan untuk mengoptimalkan pelayanan dan efisien serta efektivitas pelayanan maka ditempuh kebijakan pelayanan dalam bentuk program pemekaran dan kelembagaan pada Sidang Jemaat tahun 1982. Pada tahun 1983 usul pemekaran jemaat disampaikan dalam persidangan Klasis Pulau Ambon yang berlansung di Jemaat GPM Halong, kemudian dilanjutkan pada tahun 1984 dalam persidang Klasis Pulau Ambon di Jemaat GPM Waimahu. Proposal pemekaran dibuat dan diusulkan kepada Badan Pekerja Klasis Pulau Ambon dan Badan Pekerja Harian Sinode GPM. Pada tanggal 29 Januari 1985 dilaksanakan Sidang Jemaat khusus untuk memutuskan pelaksanaan pemekaran jemaat dan dalam persidangan jemaat tersebut diputuskan Jemaat GPM Rehoboth dimekarkan menjadi; Jemaat GPM Nehemia, Jemaat GPM Imanuel OSM, Jemaat GPM Bethesda yang akta pemekarannya dilaksanakan pada tanggal 10 Pebruari 1985. Pemekaran ini menjadi pase pertama pemekaran Jemaat GPM Rehoboth.
Setelah rentan waktu 17 tahun Jemaat GPM Rehoboth menghadapi problematikan pelayanan yang sama yaitu masalah rentan kendali dan luas wilayah pelayanan menjadi problematika yang terulang kembali.
Dan untuk merespons dinamika pelayanan tersebut maka pada persidangan Jemaat tahun 2001 memutuskan melakukan pemekaran jemaat. Dalam persidangan diputuskan pemekaran dikelompokan menjadi beberapa kelompok pemekaran, namun pergumulan panjang tersebut pada akhirnya hanya kelompok Sinar yang dimekarkan dari jemaat GPM Rehoboth menjadi Jemaat GPM Sinar pada tanggal 7 April 2002. Pemekaran ini menjadi pase kedua pemekaran Jemaat GPM Rehoboth.
Setelah rentan waktu 10 tahun berlansungnya fase pemekaran kedua, isu pemekaran bergulir lagi. Sebab laju pertumbuhan dan perkembangan jemaat GPM Rehoboth masih terlalu luas wilayah pelayanan dan jumlah anggota jemaat yang relative sangat banyak. Pada tahun 2011 data jemaat memperlihatkan bahwa jumlah anggota jemaat sebanyak 13.968 jiwa, yang tersebar pada 83 unit, 23 sektor dan dilayani oleh 7 pendeta jemaat dan 166 Majelis Jemaat. Pada persidangan jemaat GPM Rehoboth tahun 2008 diputuskan untuk dilakukan pemekaran pase ketiga yang dikelompokan pada beberapa kelompok pemekaran.
Akan tetapi setelah melewati pergumulan panjang maka pada tanggal 12 Pebruari 2012 dilaksanakan akta pemekaran jemaat yang terdiri dari sektor Getsemani, sektor Paulus, Sektor Pniel dan sektor Nazaret Menjadi jemaat baru dengan nama Jemaat GMP Eden. Pemekaran ini menjadi pase ketiga pemekaran Jemaat GPM Rehoboth.
Setiap satu dekade, isu pemekaran di jamat Rehoboth selalu mengiasi dinamika persidangan jemaat. Pada tahun 2021 dalam persidangan jemaat telah merekomendasikan pemekaran jemaat. Dan pada tahun 2021 dalam persidangan Klasis Pulau Ambon yang dilaksanakan di Jemaat GPM Imanuel OSM merekomendasikan usulan pemekaran jemaat yang kemudian proposal pemekarannya dibawah dalam Sidang MPL di Elat Tual dan telah mendapat persetujuan pemekaran. Menindaklanjuti hasil Sidang MPL tersebut, maka pada persidangan jemaat tahun 2022 telah direkomendasikan untuk dilakukan pemekaran pada 12 sektor, masing-masing ; sektor Efrata Christy Natalia, Anugrah Christy Natalia, Bethabara, Debora, Nazaret, Hermon, Horep, Sumber Kasih, Menara Kasih, Sinar Kasih, Elsaday dan Elefatin. Saat itu Jemaat GPM Rehoboth terdiri dari 80 unit, 33 sektor dengan jumlah anggota jemaat 13.073 jiwa dengan jumlah KK sebanyak 3.114 yang dilayani oleh 7 orang pendeta, 160 orang Majelis Jemaat. Pada tanggal 28 Pebruari 2023 terjadi kelembagaan jemaat GPM Sumber Kasih yang mekar dari Jemaat GPM Rehoboth dengan jumlah sektor sebanyak 12 sektor dan jumlah unit sebanyak 24 unit sedangkan jumlah jiwa sebanyak 3.877 dan jumlah kk sebanyak 917. Pemekaran ini menjadi pase keempat pemekaran Jemaat GPM Rehoboth.
Pergumulan panjang jemaat untuk merayakan hari ulang tahun jemaat, diawali dengan pelaksanaan seminar yang berlansung pada tanggal 11 Mei 2017 bertempat di Gedung Gereja Bethlehem yang menghadirkan Tim Penulis Sejarah Jemaat GPM Rehoboth terdiri dari ; Pdt Dr. M. Tapilatu, Pdt. Dr. C.A. Alyoana, Prof J.Pattikayhatu, Drs. S.H. Maelissa, M. Hum dan Drs. P.J. Puttuhena dan dipandu oleh P. Latumaerissa, S.Pd sebagi moderator. Seminar tersebut menghasilkan kesepakatan antara lain ;
- Jemaat GPM Rehoboth terbentuk dari sekelompok warga Kristen yang datang dari daerah kota Ambon dan sekitarnya, dari pulau lease, Seram, dan Buru. Sehingga jemaat GPM Rehoboth terbentuk bukan karena kegiatan pekabaran injil dari misoner akan tetapi karena terjadi perpindahan penduduk yang melakukan aktifitas sebagi pegawai negeri, pegawai swasta, pendidik, pencari kerja dan mengikuti pendidikan.
- Adanya pengakuan eksistensi Jemaat GPM Rehoboth yang dibuktikan dari berbagai aktifitas ibadah, sebelum dimekarkan dari jemaat Bandar Ambon menjadi jemaat mandiri.
Melalui diskursus panjang dengan menelah bukti-bukti sejarah maka seluruh peserta seminar menyepakati dengan suara bulat bahwa momentum pemekaran jemaat GPM Rehoboth menjadi jemaat mandiri dari Jemaat Bandar Ambon pada hari Minggu, 10 Juli 1904 menjadi tanggal, bulan dan tahun Hari Ulang Tahun Jemaat GPM Rehoboth dan hasil seminar tersebut ditetapkan dengan Surat Keputusan Majelis Jemaat nomor 152/SK/KPA-JRH/D.2/5/2017 pad tanggal 15 Mei 2017. Pada saat itu Pdt. J. Souhoka menjabat sebagai Ketua Majelis Jemaat dan pada tahun 2017 dilaksanakan Hari Ulang Tahun Jemaat GPM Rehoboth yang pertama kali pada usia 113 tahun.
Selanjutnya perayaan hari Ulang tahun jemaat GPM Rehoboth ke 114 tahun 2018, dirayakan oleh jemaat dengan pengorganisasian seluruh kegiatan pencanangan sampai ke acara puncak oleh PHBG Jemaat. Ada komitmen dan tradisi yang disepakati dalam perayaan HUT Jemaat GPM Rehoboth setiap tahun, bahwa setiap tanggal 9 Juli diadakan lari obor mengelilingi jemaat-jemaat pemekaran sebagai pesan Api Injil terus dikobarkan dan diakhiri dengan pergumulan perangkat pelayanan dan umat di gedung gereja Rehoboth sebagai tanda Syukur pelayan dan umat atas kasih dan anugranyaNya bagi pertumbuhan jemaat. Perayaan hari ualang tahun jemaat GPM Rehoboth ke 115 tahun 2019 dirakayan dalam suasana riang-gembira dengan spirit kebersamaan yang dikemas dalam berbagai kegiatan lomba dan aksi social baik dalam bentuk pengobatan masal, kerja bakti, dan pembagian beasiswa, serta penguatan spitualitas umat dalam bentuk PA Tema HUT yang dilaksanakan dalam ibadah unit pada seluruh unit pelayanan yang ada di jemaat menjelang punjak HUT.
Perayaan HUT Jemaat GPM Rehoboth ke 116 tahun 2020 dan Perayaan HUT Jemaat GPM Rehoboth ke 117 tahun 2021 dilaksanakan secara sederhana dalam bentuk ibadah Syukur dengan cara yang unik sebab semua peserta ibadah wajib menggunakan masker dengan tempat duduk yang diatur jarak antara satu dengan yang lain serta semua peserta ibadah wajib mencuci tangan dengan sabun atau dengan hand sanitizer, pengukuran suhu tubuh dan tempat ibadah disteriilkan dengan melakukan penyemprotan. Semua protap Kesehatan ini dilakukan sebagai syarat yang telah ditetapkan oleh pemerintah maupun GPM dalam menjalani masa pandemic covid 19 yang melanda seanteru dunia termasuk di kota Ambon. Bencana non alam ini melahirkan kebijakan pelayanan di lingkup GPM dengan nama “darurat pelayanan”.
Perayaan 118 tahun Jemaat GPM Rehoboth tahun 2022 ini sungguh luar biasa disambut oleh para pelayanan dan umat, sebab selama 2 tahun (2020-2021) perayaan hanya dilakukan dalam bentuk Kebaktian syukur disebabkan pandemic covid 19 yang melanda dunia. Semua rentetan kegiatan menyosong HUT sampai pada acara puncak HUT diikuti oleh semua potensi jemaat dengan riang-gembira serta penuh sukacita. Berbagai kegiatan lomba dan aksi social dilakukan untuk menjawab suasana kebahtinan umat yang baru keluar dari situasi pendemic covid 19 yang sangat mengerikan dan menelan korban jiwa dan tromatik yang sangat dalam. Semua itu memperlihatkan pertumbuhan, pengembangan, serta kemajuan yang terus terjadi di jemaat GPM Rehoboth.
Pada tahun 2023 jemaat GPM Rehoboth memasuki usia ke 119 tahun dengan jumlah sektor sebanyak 21 dan jumlah unit sebanyak 56, serta jumlah jiwa sebanyak 9.002 orang dan jumlah kk sebanyak 2.191. Semua rentetan kegiatan menyosong HUT diikuti oleh semua sektor dan unit dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh PHBG Jemaat. Semua kegiatan itu bermuara pada puncak perayaan HUT pada tanggal 10 Juli yang dilaksanakan melalui ibadah Syukur dan resepsi HUT yang melibatkan semua potensi jemaat.
Pada tahun 2024 jemaat GPM Rehoboth memasuki usia yang ke 120 tahun dengan jumlah sektor sebanyak 21 dan jumlah unit sebanyak 57, dengan jumlah jiwa sebanyak 9.015 jiwa dan jumlah KK 2.186 yang dilayani oleh 112 orang Majelis Jemaat (penatua/diaken) dan 6 pendeta yang diketuai oleh Pdt. W.D. Tuhumena sebagai Ketua Majelis Jemaat. Penambahan jumlah unit dari 56 menjadi 57 disebakan oleh terjadinya pemekaran unit 1 Bethlehem menjadi unit 1 dan unit 4. Perayaan HUT ini menandai masa berakhir tugas pelayanan Majelis Jemaat Rehoboth tahun pelayanan 2020-2025. Berbagai capaian pelayanan telah digoreskan dalam lembaran pelayanan selama lima tahun dengan suka-duka, asam-manisnya realitas pelayanan. Banyak keberhasilan telah digoreskan, namun ada banyak juga kegagalan yang terjadi semua itu menggambarkan dinamika pelayanan dalam lembaran pelayanan yang tidak pernah dilupakan. Sebagai orang-orang yang dipanggil dan diutus untuk melayani pekerjaan Tuhan di kebun anggurNya untuk menanam dan menyiram serta terus menyakini bahwa Allah yang akan memberi pertumbahan bagi Jemaat GPM Rehoboth.
Memasuki usia ke 121 tahun Jemaat GPM Rehoboth pada tanggal 10 Juli 2025, maka terjadi banyak perubahan dalam jemaat baik dari aspek jumlah jiwa, jumlah KK, perubahan peta pelayana serta jumlah pendapatan jemaat sebagai konsukensi logis dari pemekaran jemaat. Untuk itu jumlah sektor yang ada sekarang sebanyak 21, jumlah unit sebanyak 57, dengan jumlah KK sebanyak 2.137 serta jumlah jiwa sebanyak 8.735 jiwa. Dengan jumlah pendeta sebanyak 5 orang, dan jumlah Majelis Jemaat sebanyak 114 orang. Tahun ini merupakan awal masa pelayanan Majelis Jemaat GPM Rehoboth masa pelayanan 2025-2030 hasil pemilihan penatua dan diaken yang ditahbiskan pada tanggal 12 Januari 2025. Sedangkan jumlah perangkat pelayan masa pelayanan 2025-2030 sebagai berikut; Koordinator Unit sebanyak 627 orang, Pengurus Wadah Laki-laki dan Perempuan sebanyak 528 orang dan pengasuh sebanyak (……..). Disamping itu dalam rangka menunjang seluruh kegiatan pelayanan di dalam jemaat didukung oleh, Tim Litbang, Komisi Anak dan Remaja, Komisi Kemitraan, PHBG, Tim Verifikasi, Tim Tagana dan Tim Media Center. Seluruh kegiatan menyosong HUT dilaksanakan oleh PHBG Jemaat mulai dari pencanangan sampai pada puncak HUT tanggal 10 Juli. Berbagai kegiatan dilaksanakan berupa kegaiatan pasar murah, pemeriksaan Kesehatan gratis, vaksin hewan rabies, pelayanan kasih bagi janda, duda, anak yatim-piatu dan berkebutuhan khusu, pelayanan bagi warga binaan dilapas kelas II Ambon, lapas Perempuan dan lapas anak, serta penguatan spiritual umat dalam bentuk PA pada masing-masing unit dalam lingkup jemaat Rehoboth.
Pada tanggal 9 Juli menjadi momentum pergumulan khusus para perangkat pelayan sebagai cara bersyukur pelayan dan umat, atas kasih dan penyertaan Tuhan Yesus Kepala Gereja bagi Jemaat GPM Rehoboth. Dan pada tanggal 10 Juli 2025 dilaksanakan ibadah Syukur dan Resepsi HUT ke 121 tahun di Gedung Gereja Rehoboth yang akan dilayani oleh Pdt Elifas Maspaitela.
Untuk itu, jemaat GPM Rehoboth patut bersyukur kepada Tuhan, dan berterima kasih kepada semua pelayan di segala aras; dari tingkat Sinode, Klasis sampai Jemaat; berterima kasih kepada para ketua Majelis jemaat, Majelis Jemaat dari periode ke periode, Bakopel, Koordinator unit, Pengurus Wadah Laki-laki, Pengurus Wadah Perempuan, Pengasuh, AMGPM dalam lingkup Jemaat Rehoboth, Banda-badan Pelayanan di Tingkat jemaat (Panitia Fisik, Komisi, Tim, PHBG) Tuagama, Kolektaan, Pegawai Kantor, Security, Trompet, Paduan Suara, Pemain kibord, kantoria, multimedia dan penata sound system, serta umat yang memiliki andil dalam seluruh gerak pelayanan di jemaat. Kini, semua karya menanam dan menyiram telah kita saksikan sebagai wujud pertumbuhan jemaat yang dikerjakan Tuhan sebagai Pemilik Gereja Protestan Maluku ini. Dan disemangati Tema Perayaan HUT ke 121 ; “Bertumbuh Dalam Iman dan Berbuahlah Bagi Kehidupan Bersama” (Kol.2; 6-7 dan Mazur 133; 1-3).
Marilah kita semua menyosong masa depan untuk lebih giat dalam mewartakan kabar baik di tengah dunia yang terus berubah. Untuk itu, izinkan kami sebagai anak zaman dari pancaran turunan generasi dan pelaku sejarah yang hidup pada masa kini, menghimbau kita semua: marilah kita para pelayana dan warga jemaat, melipat tangan melafas syukur, bergandengan tangan merajut kebersamaan untuk mewujudkan karya dan karsa membangun jemaat GPM Rehoboth ke depan.
Dirgahayu Jemaat GPM Rehoboth ke 121 tahun, Tuhan Yesus Kepala Gereja memberkati para Pelayan dan Umat!!!
Ambon, 8 Juli 2025
MAJELIS JEMAAT GPM REHOBOTH
MASA PELAYANAN 2020-2025
PENDETA, W.D. TUHUMENA
KETUA
