Berita

Takut Tuhan Jadi Kunci, Orang Tua Penentu Arah Ilmu Anak Untuk Kebaikan

REHOBOTH – Seruan agar ilmu pengetahuan tidak disalahgunakan, melainkan diarahkan untuk kebaikan, mengemuka dalam Ibadah Minggu pertama bulan Mei di Jemaat GPM Rehoboth, minggu (03/05/2026).

Melalui khotbah yang berangkat dari Amsal 2:1-9, jemaat diajak menempatkan “Takut Akan Tuhan” sebagai kunci utama dalam menggunakan pengetahuan di tengah perkembangan dunia yang semakin cepat.

Ibadah yang dipimpin Pdt. M. M. Hendriks itu menegaskan bahwa pencarian hikmat bukan sekadar untuk menjadi pintar, tetapi untuk memahami kehendak Tuhan dalam kehidupan, khususnya dalam konteks pendidikan. Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei yang baru dilalui pun menjadi refleksi penting bahwa lembaga pendidikan adalah ruang membentuk generasi muda yang berilmu dan berkarakter.

“Anak-anak Kristen harus maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini penting, supaya menjadi orang yang pintar di otak dan juga pintar di hati, sehingga mampu membawa dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Hendriks.

Namun ia mengingatkan, pengetahuan yang tinggi tanpa dasar iman tidaklah cukup. Dalam kenyataan, banyak orang berilmu justru menyalahgunakan kemampuan mereka untuk melakukan kejahatan. Ia mencontohkan praktik peretasan dan pembobolan rekening sebagai bentuk penyimpangan ilmu yang mendatangkan penderitaan bagi orang lain.

“Ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa takut akan Tuhan bisa dipakai untuk kejahatan. Dalam iman Kristen, itu bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi dosa, pembangkangan terhadap Tuhan yang memberi pengetahuan sebagai anugerah,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa ajaran hikmat dalam Kitab Amsal sejak awal diperuntukkan bagi orang muda yang dipersiapkan menjadi pemimpin. Karena itu, dasar utama yang harus dimiliki bukan hanya kecakapan intelektual, tetapi hidup benar, jujur, dan takut akan Tuhan.

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Tuhan harus menjadi pusat hidup kita, supaya ilmu tidak disalahgunakan, dan jabatan tidak membuat kita sombong,” ujarnya.

Menurut Pdt Hendriks, nilai takut akan Tuhan juga menjadi “perisai” dalam kehidupan sosial, sebagaimana tertulis dalam ayat 7 dan 8. Di tengah berbagai godaan dan rayuan dalam masyarakat, manusia dituntut untuk tetap ingat akan Tuhan dalam setiap keputusan hidup.

Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak. Orang tua, katanya, harus menjadi guru, pengajar, sekaligus teladan dalam menanamkan nilai iman sejak dini.

“Pembinaan spiritual harus dimulai dari rumah. Orang tua punya tanggung jawab besar, karena masa depan anak-anak ada dalam tangan mereka,” katanya.

Sebagai contoh konkret, Pdt Hendriks mengajak keluarga untuk menghidupkan kembali kebiasaan sederhana seperti berdoa dan membaca Alkitab bersama di meja makan.

Menurutnya, meja makan bukan hanya tempat makan, tetapi ruang membangun iman, komunikasi, dan nilai kebersamaan.

“Di situ anak-anak belajar bahwa semua yang ada adalah berkat Tuhan. Mereka juga belajar berbagi, menghargai, dan mengenal Tuhan sejak kecil,” jelasnya.

Ia menegaskan, keluarga yang hidup dalam doa dan firman adalah “gereja kecil” yang memancarkan kasih dan takut akan Tuhan. Dari keluarga yang demikian, akan lahir masyarakat dan gereja yang hidup benar dan memuliakan Tuhan.(MCR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *