Berita

Retret Kemitraan GPM Rehoboth: Menyatukan Pelayanan, Menguatkan Spiritualitas di Taman Doa Goa Maria Airlouw

REHOBOTH – Di tengah keheningan alam dan semilir angin dari perbukitan Airlouw, Ratusan pelayan Jemaat GPM Rehoboth memilih berhenti sejenak dari rutinitas pelayanan. Mereka datang bukan sekadar berkumpul, tetapi menata kembali hati, menyelaraskan panggilan, dan memperdalam makna pelayanan dalam bingkai iman.

Bertempat di kawasan Goa Maria Airlouw, Ke Kecamatan Nusaniw, Kota Ambon, retret kemitraan yang digagas Komisi Kemitraan ini berlangsung selama dua hari, 1-2 Mei 2026, sebagai bagian dari persiapan menyongsong HUT Wadah Pelayanan Perempuan ke-58, 5 Mei 2026.

Sebanyak 84 peserta dari unsur Ketua dan Sekretaris Wadah Pelayanan Perempuan dan Wadah Pelayanan Laki-Laki turut ambil bagian, bersama 21 anggota Komisi Kemitraan, serta jajaran PHMJ, Majelis Seksi PTPU, dan Majelis Sub Seksi Kemitraan Laki-Laki dan Perempuan.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Majelis Jemaat, Pendeta Boy Tuhumena, melalui pemukulan tifa sebagai simbol dimulainya proses pembinaan dan penguatan pelayanan. Ia didampingi Ketua Komisi Kemitraan, Abraham Tuanakotta.

Dalam penjelasannya, Tuanakotta menekankan bahwa retret tahun ini diarahkan pada penguatan kapasitas pelayanan, berbeda dengan tahun sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi.

“Tahun ini kita fokus pada penguatan kapasitas pelayanan. Kita ingin menyamakan persepsi tentang pelayanan, memahami aturan pokok GPM, serta memperdalam ajaran gereja bagi perangkat pelayanan,” ujarnya kepada Media Center Rehoboth, disela-sela kegiatan, Jumat (1/5/2026).

Selama dua hari mengikuti retret, peserta mendapatkan pembekalan materi terkait regulasi pelayanan, pendalaman ajaran gereja, hingga ruang rekreasi yang memberi keseimbangan antara tugas dan penyegaran rohani. Pada malam hari, suasana menjadi lebih hening melalui sesi meditasi yang dipimpin Pendeta Rita Tuhumena, mengajak peserta masuk dalam refleksi mendalam tentang panggilan pelayanan.

“Pelayanan ini bukan tentang diri sendiri atau kelompok, tetapi semata-mata untuk memuliakan Tuhan,” tegasnya.

Memasuki hari kedua, para peserta mengikuti ziarah rohani di kawasan taman doa. Mereka menyusuri Jalan Salib, berdoa dalam keheningan gua, hingga menikmati panorama Laut Banda dari ketinggian yang menyejukkan jiwa.

Di kawasan ini juga berdiri Gereja Mater Misericordiae, gereja dengan arsitektur modern bergaya Eropa yang menjadi bagian dari pusat devosi umat, sekaligus memperkaya pengalaman spiritual para peserta.

Lingkungan alam Airlouw yang sejuk dan asri menjadi ruang alami untuk merenung, memperdalam relasi dengan Tuhan, sekaligus membangun kembali komitmen pelayanan yang tulus.

Tuanakotta berharap, melalui retret dapat tercipta sinergi yang kuat di antara seluruh perangkat pelayanan, sehingga setiap pelayan memiliki pemahaman yang sama dalam menjalankan tugas. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dan spiritualitas para pelayan, agar pelayanan yang dilakukan tidak lagi berorientasi pada kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan sepenuhnya menjadi wujud pengabdian untuk memuliakan nama Tuhan. (MCR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *