Berita

Pelatihan Modul Pelayanan GPM: Dari Rehoboth, Pelayan Gereja Ditempa Menjadi Perancang Harapan Umat

REHOBOTH – Suasana khidmat menyelimuti Gereja Kasih Setia, GPM Rehoboth, Batu Gantong, Nusaniwe, Ambon. Sejak Senin (4/8/2025) petang, 14 pendeta dari Klasis Luang Sermata berkumpul dalam semangat yang sama, belajar merancang pelayanan yang menjawab kebutuhan nyata umat.

Mereka hadir bukan sekadar mengikuti pelatihan. Mereka datang dengan kerinduan membekali diri untuk melayani secara terencana, sistematis, dan menyentuh seluruh pergumulan umat. Itulah tujuan dari kegiatan Pelatihan dan Lokakarya Pembuatan Modul Pelayanan (PLPMP) yang berlangsung dari 4 hingga 8 Agustus 2025, dengan sesi pengenalan yang dimulai sehari sebelumnya.

Diselenggarakan oleh Biro Pekabaran Injil (PI) Sinode GPM, kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis Gereja sesuai arah kebijakan PIP/RIPP GPM 2016–2025. Tujuannya jelas, menciptakan para pelayan gereja yang mampu merancang dan memfasilitasi pelayanan secara terukur dan efektif, bukan sekadar rutinitas liturgi semata.

“Ini baru pertama kali dilakukan di Klasis Luang Sermatang dalam periode pelaksanaan PIPRIP 2016–2025. Di ujung masa itu, akhirnya kegiatan ini dapat dilaksanakan,” ungkap Ketua Klasis Luang Sermata Pendeta Osias R. Maskikit, S.Si, kepada media center disela-sela pelaksanaan pelatihan.

Peserta yang hadir terdiri dari 10 Ketua Majelis Jemaat, 3 Pendeta Jemaat, serta Bendahara Klasis. Mereka akan menjalani lima hari penuh pelatihan intensif, mendalami penyusunan modul pelayanan yang efektif—modul yang tidak hanya menyentuh tataran teknis, tetapi juga spiritualitas dan konteks real umat.

“Kita ingin membekali para pendeta agar mampu menyusun modul pelayanan yang tepat. Modul yang nantinya dapat dijalankan tidak hanya di tingkat jemaat, tetapi juga di sektor, unit, dan seluruh wadah pelayanan gereja,”jelas Maskikit.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya keterlibatan Penatua dan Diaken dalam proses ini. “Kita berharap pelatihan ini menjadi titik tolak bagi para penatua dan diaken agar turut memahami dan merancang modul pelayanan. Jadi bukan hanya pendeta, tetapi seluruh pelayan khusus bergerak bersama, melayani secara relevan dan kontekstual,”harapnya.

Menurut Maskikit, visi besar dari pelatihan ini adalah pelayanan yang transformatif, yang tidak berhenti pada ibadah mingguan, tetapi menembus persoalan nyata umat, merupakan harapan yang belum terjawab, air mata yang belum sempat diusap, dan doa yang belum mendapat sahutan.

“Harapan kami, umat di tingkat Klasis dan Jemaat sungguh merasakan bahwa gereja hadir bukan hanya untuk berdoa, bernyanyi, dan pulang. Tapi gereja hadir menyapa seluruh kehidupan, memberi arah, dan menjawab pergumulan umat,” tandas Maskikit penuh harap.

Melalui kegiatan ini dari Rehoboth, sebuah langkah kecil telah diambil. Tapi bagi Klasis Luang Sermata, ini adalah lompatan rohani, menuju pelayanan gereja yang terencana, menyentuh, dan membebaskan. (TMC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *