Berita

Pentahbisan Penatua Baru di Rehoboth: Bukan Sekadar Seremoni, Melainkan Panggilan Iman

REHOBOTH – Hujan yang membasahi Kota Ambon sejak pagi, Minggu (24/8/2025), tak mampu meredam sukacita umat Jemaat GPM Rehoboth. Di tengah dinginnya cuaca, suasana di dalam gereja justru hangat oleh liturgi yang sakral, satu secondus masa pelayanan 2025-2030 secara resmi dithabiskan, menanggalkan kehendaknya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada panggilan pelayanan.

Prosesi khidmat itu dipimpin Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPM Rehoboth, Pdt. W. D. Tuhumena, M.Th. Para penatua dan diaken turut mendampingi, sementara jemaat menyaksikan dengan hening penuh hormat. Suasana seakan menegaskan, panggilan ini bukan sekadar seremoni, tetapi pernyataan iman untuk hidup dalam ketaatan dan pengabdian.

Dalam kebaktian itu, Fransisca Isabela Titelay ditahbiskan sebagai Penatua Jemaat GPM Rehoboth masa pelayanan 2025-2030. Penumpangan tangan dari Pendeta menjadi simbol pengutusan resmi, tanda bahwa ia kini dipanggil untuk melayani umat Tuhan dengan sepenuh hati.

Pentahbisan ini berlandaskan Surat Keputusan Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM SK nomor 135/KPA/D.2/7/2025 tertanggal 23 Juli 2025, tentang pengangkatan Fransiska Isabela Titaley, sebagai Penatua di Jemaat GPM Rehoboth – Klasis Pulau Ambon, masa pelayan 2025-2030. Bersamaan dengan itu, MPH Sinode juga menerbitkan SK MPH Sinode nomor 135/KPA/D.2/7/2025 tentang pemberhentian dengan hormat Penatua Richard Pattikawa dari segala tugas dan tanggung jawab selaku Pelayan Khusus (Majelis Jemaat) GPM Rehoboth – Klasis Pulau Ambon.

Sekadar diketahui, pergantian pelayan Tuhan ini dilakukan karena Penatua Richard Pattikawa harus menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ASN di Jakarta.

Kedua keputusan tersebut ditandatangani langsung Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. Elifas Maispaitella, M.Th., dan Sekretaris, Pdt. S. I. Sapulette, M.Si., menegaskan kesinambungan pelayanan dalam tata gereja yang tertib dan sah.

Liturgi kebaktian semakin syahdu dengan pujian dari Ukulele SMTPI Solafide, Paduan Suara Sektor Solafide, dan Paduan Suara Remaja-Pemuda yang mengalun indah memuliakan nama Tuhan.

Dalam khotbah yang diambil dari Kisah Para Rasul 4:1–22, Pdt. W. D. Tuhumena menekankan keberanian dan kesetiaan para rasul, Petrus dan Yohanes, dalam memberitakan Injil meski menghadapi ancaman dan penolakan. “Ketaatan kepada Allah lebih utama dari pada ketaatan kepada manusia. Kuasa Roh Kudus menguatkan kita untuk menjadi saksi Kristus. Hanya melalui Yesus ada keselamatan,” tegasnya.

Ia menambahkan, umat Tuhan dipanggil untuk menggunakan kewenangan yang dipercayakan sebagai anugerah, bukan untuk kepentingan diri, melainkan demi kebaikan bersama. “Kuasa itu harus digunakan dengan benar, supaya kita mengalami berkat Tuhan dan menghadirkannya bagi sesama,” ujarnya.

Mengacu pada tema Minggu, “Merdeka untuk Membangun Demokrasi yang Bertanggung Jawab”, Pdt. Tuhumena juga mengingatkan pentingnya etika dalam menyampaikan pendapat di tengah kehidupan jemaat. Ia menegur praktik yang salah kaprah, seperti meluapkan kekecewaan lewat media sosial.

“Sebagai pelayan Tuhan, mari kita belajar menyelesaikan masalah dengan dialog, doa, dan kasih. Itu cara demokrasi yang benar di hadapan Tuhan,” katanya.

Kepada penatua yang baru ditahbiskan, ia berpesan agar selalu menyuarakan suara kenabian yang lahir dari iman.

“Hari ini ada penahbisan. Kita bekerja dengan kuasa Tuhan. Harus bersuara dalam nama Yesus untuk semua yang baik,” pungkasnya.

Momen sakral itu menutup kebaktian Minggu dengan kesan mendalam, dalam dinginnya hujan di Ambon api pengabdian baru telah dinyalakan di tengah Jemaat GPM Rehoboth.(TMC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *