Riuh Tawa Anak-Anak Rehoboth dalam Konser Dongeng 90 Tahun GPM
REHOBOTH – Gereja Rehoboth, Rabu (10/9/2025), dipenuhi riuh tawa dan sorak sorai anak-anak. Ratusan anak Batita, Indria, dan anak kecil larut dalam suasana hangat “Konser Dongeng: 90 Menit Mendongeng untuk 90 Tahun GPM” yang digelar Komunitas Dongeng Maluku berkolaborasi dengan Komisi Anak dan Remaja Jemaat Rehoboth.
Sejak pintu gereja dibuka, suasana berbeda langsung terasa. Bukan liturgi formal, melainkan panggung boneka, ilustrasi cerita, dan wajah-wajah kecil yang berbinar. Anak-anak diajak berimajinasi, mendengar kisah sederhana namun sarat makna, tentang sejarah dan panggilan Gereja Protestan Maluku (GPM) yang telah menapaki 90 tahun perjalanan.

“Rumah Dongeng Damai hadir di tengah-tengah kita untuk berbagi cerita. Setelah sebelumnya bersama kakak pengasuh, hari ini fokus kita adalah anak-anak Batita, Indria, dan anak kecil,” ungkap Pdt. Rita Tuhumena saat membuka kegiatan.
Ia menekankan pentingnya momentum ini, bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan iman. “Kami percaya kesempatan ini sangat berharga. Melalui cerita-cerita kreatif dari kakak-kakak rumah dongeng, anak-anak bisa belajar mengenal sejarah GPM dengan cara sederhana. Kami berharap para pengasuh SMTPI dapat melanjutkan metode ini dalam pembinaan anak-anak,” tambahnya.
Pdt. Rita juga menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Dongeng, Komisi Anak dan Remaja, serta para pengasuh yang telah mendampingi anak-anak. “Kegiatan ini sungguh bermanfaat, baik untuk minat belajar anak-anak maupun pengasuh yang membimbing mereka,” ujarnya.

Dari balik panggung, semangat yang sama terpancar. Pdt. Eklin de Fretes, salah satu penggerak Komunitas Dongeng Maluku, mengakui persiapan konser ini hanya memakan waktu singkat. “Kami hanya latihan dua kali. Tapi semangatnya besar, karena kami satu-satunya komunitas dongeng di Maluku, bahkan di Indonesia Timur, yang masih setia menghidupkan tradisi mendongeng sebagai media pendidikan anak,” tuturnya.
Baginya, konser dongeng ini bukan sekadar perayaan, tetapi bentuk refleksi. “Kami tidak ingin peringatan 90 tahun GPM hanya dirayakan dengan euforia. Anak-anak harus mengerti sejarah gerejanya, meski dengan bahasa sederhana. Lewat dongeng, mereka belajar untuk rajin ke gereja, menghormati orang tua, dan mencintai GPM,” jelasnya.
Media yang digunakan pun beragam: panggung boneka, paper, hingga metode interaktif yang membuat anak-anak terlibat langsung.

“Kami berharap dari cerita-cerita ini, anak-anak punya mimpi dan janji untuk GPM, untuk menjadi generasi yang lebih baik,” tutupnya penuh harap.
Konser dongeng malam itu bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah ruang pendidikan iman yang membekas. Di tengah tawa, sorak, dan tepuk tangan, terselip pesan sederhana: bahwa mendidik anak-anak adalah cara terbaik menjaga masa depan gereja dan negeri. (RMC)
