Hidup Sebagai Anak Terang di Tengah Dunia yang Gelap
REHOBOTH – Pesan iman Rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika kembali menggema dari mimbar Gereja Rehoboth, Ambon, Minggu (19/10). Dalam khotbah bertema “Hidup sebagai Anak Terang” yang diambil dari 1 Tesalonika 5:1–11, Pendeta J. Madubun mengingatkan jemaat agar tetap waspada dan hidup dalam terang Kristus di tengah godaan dunia, seraya menegaskan pentingnya kesatuan gereja dan keluarga Allah menjelang Sidang Sinode GPM ke-39.
Dalam renungannya, Pendeta Madubun mengisahkan kembali latar kota Tesalonika, ibukota provinsi Roma Makedonia, yang kala itu dikenal sebagai kota pelabuhan makmur namun tenggelam dalam penyembahan berhala. Kehadiran Paulus di kota itu menjadi titik balik besar, melalui perjuangan, pengorbanan, dan doa, Injil Kristus akhirnya berakar dan mengubah hidup banyak orang.
“Paulus datang bukan membawa kekuatan dunia, tetapi membawa terang Kristus. Dan terang itu menaklukkan kegelapan,” ujar Madubun di hadapan jemaat yang memenuhi ruang ibadah Rehoboth.
Ia menjelaskan, melalui suratnya, Paulus mengingatkan bahwa kedatangan Tuhan akan datang secara tiba-tiba, seperti pencuri di malam hari. Karena itu, umat percaya dipanggil untuk tidak tertidur rohani, tetapi berjaga-jaga, menjaga iman, dan hidup dalam kasih.
“Kita tidak tahu kapan Tuhan datang, tapi kita tahu siapa Tuhan yang kita sembah. Karena itu, jangan larut dalam dunia. Jadilah anak-anak terang yang hidup dalam kebenaran,” pesan Madubun.
Bangun Keluarga dan Gereja yang Kuat dalam Persaudaraan Rohani
Lebih jauh, Pendeta Madubun menekankan bahwa dalam penantian kedatangan Kristus, umat dan keluarga Kristen harus saling menguatkan satu sama lain. Ia menyebut, keluarga merupakan ruang pertama di mana kasih Allah ditanam dan iman dipelihara.
“Keluarga harus jadi tempat bertumbuh secara rohani, bukan saling menjatuhkan. Paulus menulis: saling membangun dan menasihati. Itu perintah kasih yang harus kita hidupkan,” tegasnya.
Madubun juga mengaitkan pesan Paulus dengan tanggung jawab gereja masa kini, terutama dalam menyongsong Sidang Sinode GPM ke-39, yang akan membahas arah pelayanan dan pembaruan kehidupan ber-
gereja di Maluku.
Ia menegaskan, gereja tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus hidup sebagai satu tubuh Kristus.
“Kita semua keluarga Allah. Pelayan, majelis, dan umat harus saling menopang dalam kasih, sebab di situlah kekuatan gereja,” katanya.
Mengacu pada tema bulanan GPM, “Gereja yang Bersyukur dan Bertransformasi Diri”. Pendeta Madubun mengajak jemaat untuk menjadikan rasa syukur sebagai kekuatan untuk memperbarui diri dan pelayanan. Menurutnya, ucapan syukur bukan hanya kata-kata, tetapi tindakan nyata untuk berubah dan hidup sesuai kehendak Tuhan.
“Bersyukur bukan berarti berhenti berbenah. Justru dalam syukur, kita belajar memperbaiki diri, melayani lebih tulus, dan hidup dalam kasih Kristus,” tutur Madubun.
Ia menegaskan bahwa gereja yang bersyukur adalah gereja yang mampu bertransformasi, memperkuat persekutuan, meningkatkan kepedulian sosial, dan menyalakan terang Kristus di tengah masyarakat.
Di akhir khotbahnya, Pendeta Madubun menegaskan panggilan bagi seluruh umat Tuhan:
“Hiduplah dalam terang, berjaga dalam iman, saling menguatkan dalam kasih. Gereja yang kuat bukan karena besar gedungnya, tapi karena umatnya setia dan saling menopang di dalam Tuhan.”
Ibadah Minggu itu turut diisi dengan solo persembahan dari An. Bernad serta Paduan Suara Jemaat Rehoboth, yang mempersembahkan pujian bertema pengharapan dan kasih.
