Ibadah Minggu Teguhkan Iman: Berbagi Bukan Soal Jumlah, Tapi Soal Hati
REHOBOTH – Suasana Ibadah Minggu (26/10/2025) berlangsung penuh hikmat dan kehangatan. Jemaat diajak meneladani makna syukur dan kasih yang sejati melalui khotbah yang dibawakan oleh Pendeta R. Tuhumena, dengan bacaan Alkitab terambil dari Filipi 4:10-20, bertema “Terima Kasih atas Pemberian Jemaat.”
Dalam khotbahnya, Pendeta Tuhumena membuka dengan sebuah kisah sederhana namun menyentuh hati. Ia bercerita tentang seorang ibu dari jemaat kecil di daerah terpencil yang datang membawa persembahan satu bungkus kasbi. Dengan wajah penuh ketulusan, sang ibu berkata, “Ini persembahan yang beta punya, nanti pak pendeta rabus akang.”
“Nilainya mungkin kecil,” ujar Pendeta Tuhumena, “tetapi kasih yang terkandung di dalamnya besar. Ibu itu mengajarkan kita bahwa berbagi bukan soal jumlah, tapi soal hati yang bersyukur dan tulus.”ujarnya.
Ia kemudian menghubungkan kisah tersebut dengan pengalaman Rasul Paulus yang menulis surat kepada jemaat di Filipi. Paulus menulis surat ucapan syukur bukan dari tempat yang nyaman, melainkan dari penjara. Namun di tengah penderitaan, ia tetap bersyukur karena jemaat Filipi tidak melupakannya dan terus menopangnya dengan kasih dan perhatian.
Pendeta Tuhumena menegaskan bahwa dari perikop ini, umat Tuhan dapat belajar tiga hal penting:
1. Bersyukur dalam segala keadaan.
Rasul Paulus mengajarkan bahwa ia telah belajar mencukupkan diri, baik dalam kekurangan maupun kelimpahan. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan,” (Filipi 4:13). Orang beriman tidak boleh bersungut dalam kekurangan dan tidak sombong dalam kelimpahan, sebab sumber kekuatan sejati hanyalah Kristus.
2. Setia dalam memberi.
Jemaat Filipi bukan jemaat yang kaya secara ekonomi, namun mereka kaya dalam kemurahan hati. Memberi bukan karena berlebih, melainkan karena kasih kepada Tuhan dan sesama.

“Gereja bukan hanya tempat beribadah,” tegasnya, “tetapi tempat di mana kita belajar saling menopang, mendoakan, dan berbagi berkat.”
3. Memberi dengan hati yang ikhlas.
Persembahan jemaat Filipi bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan Paulus, melainkan menjadi persembahan yang berkenan di hadapan Allah, bau harum yang menyenangkan hati Tuhan.
“Ketika kita memberi dengan kasih, kita sedang mengambil bagian dalam karya Allah yang memelihara sesama,” ujar Pendeta Tuhumena.
Ia menegaskan bahwa tindakan berbagi tidak menunggu kita menjadi kaya, tetapi dimulai dari hati yang rela.
“Kalau orang di sebelah kita sakit, menyapa saja sudah bentuk berbagi. Memberi waktu, perhatian, doa, itu semua bagian dari kasih,” katanya.
Mengakhiri khotbah, Pendeta Tuhumena mengutip Filipi 4:19, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”
“Ini bukan janji kosong,” ujarnya, “tetapi kenyataan iman yang dialami setiap orang yang hidup dalam kasih dan mau berbagi,”tambahnya.
Ibadah Minggu semakin semarak dengan pujian dari Paduan Suara Laki-Laki Jemaat dan penampilan solo rohani oleh Herson de Fretes, yang menambah suasana damai dan penuh syukur.
Pesan ibadah kali ini meneguhkan iman jemaat bahwa kekuatan sejati bukan pada harta atau kelimpahan, melainkan pada hati yang tahu bersyukur dan tangan yang mau berbagi.
“Berbagi bukan soal jumlah, tetapi soal kasih yang tulus dari hati yang bersyukur,”tutup Pendeta Tuhumena. (RMC)
