Berita

Jemaat Diajak Tinggalkan Hedonisme, “Berkat Tuhan Bukan Kekayaan, Tetapi Hidup Jujur dan Merasa Cukup”

REHOBOTH – Ibadah Minggu di Gereja Rehoboth, 16 November 2025, menghadirkan pesan mendalam tentang pentingnya hidup secukupnya atau ugahari. Melalui khotbah bertema Minggu ketiga “Menjadi Gereja yang Ugahari”, Pdt. W. D. Tuhumena mengajak jemaat merenungkan kembali nilai kehidupan yang kini banyak dipengaruhi budaya digital dan gaya hidup konsumtif.

Dalam penyampaiannya, Pdt. Tuhumena menyoroti perubahan perilaku masyarakat Kristen yang kian terjebak pada tuntutan tampil lebih dan memiliki lebih. Ia menyebut banyak orang kini terdorong untuk mengejar popularitas di media sosial, menumpuk barang-barang mewah, hingga mempertahankan gengsi dengan mengikuti tren tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya.

“Banyak orang sudah punya mobil, tapi masih ingin tambah lagi. Sudah punya handphone, mau lagi yang lain. Ini bukan kebutuhan, ini keinginan,” tegasnya.

Pendeta menjelaskan bahwa fenomena ini lahir dari empat gaya hidup modern yang makin kuat; individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme.

Keempatnya, menurut ia, telah memberi dampak besar pada cara orang Kristen memaknai berkat Tuhan. Banyak jemaat yang terpengaruh oleh teologi sukses, pandangan bahwa percaya kepada Tuhan pasti berbuah kekayaan, kesehatan, dan keberhasilan duniawi.

“Akibatnya, yang dikejar bukan lagi ketaatan kepada Tuhan, tetapi harta. Orang melihat berkat hanya dari melimpahnya materi,” ujarnya.

Bagian paling kuat dari khotbah muncul ketika Pdt. Tuhumena mengulas Amsal 30:7-9. Dalam doa Sang Guru Hikmat itu, ia menekankan dua permintaan yang dianggap relevan dan penting untuk kehidupan masa kini, hati yang jujur dan hidup yang cukup.

“Sang penulis Amsal tidak meminta kaya. Ia tidak meminta umur panjang. Ia hanya berkata berikan kepadaku kejujuran dan kecukupan sebelum aku mati,” jelasnya dari mimbar.

Pendeta Tuhumena menegaskan bahwa berkat sejati menurut Amsal bukanlah kekayaan melimpah, melainkan kemampuan untuk hidup jujur dan merasa cukup. Ia mengingatkan, kekayaan berlebih dapat membuat seseorang merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan, sementara kemiskinan dapat membuat seseorang tergoda berbuat dosa.

“Oleh karena itu, yang kita cari bukan lebih banyak atau lebih sedikit, tetapi secukupnya sesuai bagian yang Tuhan tetapkan,” tambahnya.

Sindiran Tegas untuk Budaya Hedonistik

Dalam khotbahnya, Pdt. Tuhumena juga menyentil budaya pesta pora yang kerap muncul dalam lingkup GPM, mulai dari perayaan baptisan hingga sidi. Menurutnya, kegiatan-kegiatan itu kini lebih banyak ditandai oleh sikap hedonistik dan dorongan menjaga gengsi.

“Kita ini terkenal hedonis. Semua serba pesta. Ada gengsi kalau orang bisa, kenapa beta seng bisa? Itu bukan gaya hidup orang percaya,” tegasnya.

Ia mengajak jemaat untuk menggunakan berkat Tuhan secara bijaksana, tidak larut dalam keinginan yang tak ada habisnya, tetapi kembali fokus pada kebutuhan nyata dan tanggung jawab keluarga maupun persekutuan.

Merasa Cukup, Dasar Untuk Mengasihi

Menyimpulkan pesannya, Pdt. Tuhumena menyampaikan bahwa hidup ugahari bukan sekadar ajaran moral, tetapi jalan iman yang memungkinkan orang percaya lebih mudah berbagi dan mengasihi.

“Orang Kristen yang merasa cukup akan selalu mampu berbagi dengan orang lain,” tutupnya.

Ibadah Minggu itu pun menjadi momentum bagi jemaat untuk meninjau kembali gaya hidup masing-masing, sekaligus menghayati kembali doa yang diajarkan Yesus “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *