Adventus Kedua: Jemaat Diajak Bertransformasi dan Membangun Damai
REHOBOTH – Memasuki Minggu Adventus kedua, jemaat diajak untuk memasuki suasana penantian kelahiran Kristus dengan hati yang diperbaharui.
Dalam ibadah Minggu (07/12/2025), Pendeta. R. Hatalaibessy menyampaikan khotbah yang berpusat pada Mikha 4:1-5, menegaskan bahwa pesan Advent bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi panggilan untuk bertransformasi dan membangun kehidupan yang penuh damai.
“Adventus tidak hanya membuat lingkungan menjadi indah, tetapi membuat hidup kita menjadi indah,” ujar Pdt. Hatalaibessy.
Ia mengingatkan jemaat bahwa sepanjang perjalanan hidup, banyak tindakan yang mungkin mengecewakan Tuhan maupun sesama, baik di rumah, di pekerjaan, maupun dalam relasi sehari-hari. Adventus hadir sebagai momentum untuk kembali kepada Tuhan dan memperbaiki hidup.
Dalam penjelasan firman, ia menyoroti empat pesan utama dari Mikha:
Mencari Tuhan sebagai awal keselamatan
Mikha menggambarkan bangsa-bangsa yang berduyun-duyun menuju Sion untuk menerima pengajaran Tuhan. Pdt. Hatalaibessy menegaskan bahwa inti keselamatan dimulai ketika manusia mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Melalui Advent, jemaat diajak melakukan introspeksi dan meninggalkan perbuatan yang menjauhkan diri dari Tuhan.
Transformasi hidup: dari kekerasan menuju kasih
Mengutip ayat 3, ia menjelaskan simbol “pedang ditempa menjadi mata bajak” sebagai tanda perubahan hidup menuju kebaikan.
“Apa yang dulu dipakai melukai, harus berubah menjadi alat yang membangun,” katanya.
Transformasi ini memanggil jemaat untuk meninggalkan konflik, dendam, dan ego, lalu menggantinya dengan kasih yang memulihkan relasi dalam keluarga, antar saudara, tetangga, hingga lingkungan kerja. Nilai Pela Gandong turut diangkat sebagai wujud kasih yang menyatukan perbedaan di Maluku.
Hidup dalam damai dan menjadi sumber sukacita
Dalam suasana Adventus, jemaat diminta menjaga kedamaian hati serta menghadirkan damai bagi orang lain.
“Yang tidak benar dalam hidup, mari kita ubah menjadi kedamaian,” tegasnya.
Damai, menurutnya, bukan hanya keadaan tanpa konflik, tetapi sikap hidup yang mencerminkan karakter Kristus.
Tetap berjalan di jalan Tuhan
Sebagai penutup, ia menegaskan pentingnya keteguhan iman. Meskipun hidup memiliki banyak tantangan, umat diminta tetap berjalan di jalan Tuhan dan berpegang pada kebenaran-Nya.
Adventus kedua ini, jemaat diingatkan bahwa menyambut kelahiran Yesus bukan hanya soal perayaan, tetapi perubahan hidup. Advent menjadi ajakan untuk memperbaharui diri, membangun damai, dan menjadi pembawa kasih di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat. (MCR)
