121 Tahun Jemaat GPM Rehoboth : Iman Bertumbuh dan Berbuah, Kasih Kristus Yang Tak Pernah Padam
REHOBOTH – Di malam pergantian hari, di bawah langit yang redup, jalan-jalan terbentang lengang, dalam hening yang dalam. Di sanubari gelap itu, ratusan insan berbalut hitam berdiri tegak, di titik kumpul pelayanan Rehoboth. Mereka adalah Majelis Jemaat, dan perangkat pelayan dalam sektor, bagai bayang-bayang iman yang teguh, menanti panggilan kasih yang menyatukan langkah dalam satu terang, yang selama ini setia melayani dengan rendah hati, suara-suara yang mendoakan di ladang Tuhan. Dengan hati bersuka cita, mereka menapaki malam pergumulan yang dalam, bersama menyiapkan jalan bagi terang HUT ke-121 Jemaat GPM Rehoboth, 10 Juli 2025 dengan iman yang tak pernah padam.
Di bawah bayang cahaya malam yang lembut, Rabu (9/7/2025), prosesi pergumulan pun ter-anyam rapi dalam benang kasih yang teratur. Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi (PHBG) merenda persiapan dengan hati yang tertunduk dalam doa, lima titik menjadi saksi bisu, tempat nyala iman dan pengabdian bersemi, disanalah langkah-langkah kecil berjumpa dalam harmoni pelayanan yang agung.
Proses pergumulan pun dimulai tepat pukul 23.00 WIT, yang tersebar di lima titik pelayanan. Para pelayan dari Sektor Elim, Galilea, Tiberias, Siloam, dan Bethesda, diwakili oleh ketua bakopel sektor Bethesda melangkah menuju prosesi suci, dengan tangan menggenggam obor, cahaya harapan menari di ujung nyala, melangkah perlahan menjemput sang gembala, Pdt. Roby Hatalabessy.
Hal serupa bergema di penjuru lain, para pelayan di Sektor Zaitun, Viadalarosa, Imanuel, Sion, Eirene, dan Calvary bersatu hati. Berkumpul di pelataran Gereja Calvary yang kudus. Dengan langkah bak nyanyian malam yang syahdu. Sementara ketua Bakopel Sektor Sion, menjemput sang pelayan Pdt. Evertd Tamtelahitu.
Sementara Sektor Sinai dan Karmel berkumpul di pangkalan ojek batu gantung, di antara bayang-bayang lampu jalan dan gerimis, mereka menanti rombongan dari Ganemo dan Goga, yang akan datang membawa langkah penuh iman, menyatukan hati dan kaki dalam iring-iringan suci, menuju persekutuan yang abadi.

Sektor Solafide dan Bethania berkumpul di depan Hotel Ruma-Ruma Farvet, menanti dengan sabar rombongan Batu Gantung Dalam yang segera bergabung. Di sudut lain, di pelataran Gereja Kasih Setia, para pelayan dari Sektor Betlehem, Pniel, Orel, Yarden, dan Kasih Setia telah berhimpun. Hati mereka bersatu dalam nyala obor iman yang tak pernah padam, dibawakan Ketua Bakopel Yarden.
Setelah proses yang dirajut dalam hening malam, Majelis dan para pelayan berdiri teguh di titik yang ditentukan, menanti langkah sang Pendeta yang membawa terang, lalu bersama melangkah perlahan menuju Gereja Rehoboth, tanpa denting terompet yang riuh, hanya sunyi yang syahdu menjaga heningnya hati dalam perjalanan menuju pergumulan suci.
Tatkala langkah-langkah perlahan tiba di pelataran Gereja Rehoboth. Para Pendeta dan Majelis Jemaat mengayunkan kaki menuju Pastori 1, tempat sunyi yang hanya diperkenankan bagi para hamba Tuhan. Sementara itu, Majelis Jemaat berdiri tegak di luar Pastori, menanti dalam diam yang sarat makna pembakaran obor oleh Ketua Majelis Jemaat, Pdt. W. D. Tuhumena. Saat itu juga, obor yang dipegang masing-masing Ketua Bakopel diserahkan kepada Pendeta dari tiap-tiap wilayah, kemudian berjalan bersama-sama menuju Gereja Rehoboth.

Setibanya di pelataran Gereja Rehoboth, tangan-tangan yang terpilih, Ketua Majelis Jemaat, Ketua Klasis Pulau Ambon, dan para Pendeta jemaat, bersama-sama menyalakan Obor Induk, diawali dengan akta pembakaran obor oleh Ketua Majelis Jemaat. Di tengah kobaran itu, terdengarlah lagu “Api Anjil” menggema lembut namun menggetarkan, dilantunkan serentak oleh seluruh Majelis Jemaat, dan perangkat pelayan yaitu Pengurus unit, pengurus wadah laki, perempuan dan Pengurus AMGPM, Pengasuh serta seluruh Komisi/tim dan panitia yg dibentuk majelis, mengalun syahdu dipandu Kantoria, sebuah kidung yang membawa api menjadi terang bagi perjalanan iman yang terus menyala.
Setelah itu, Bendahara Majelis Jemaat berdiri di depan pintu Gereja, menggenggam lilin besar yang menyala lembut, sebuah cahaya pengharapan yang berkobar dalam diam. Dengan hikmat ia menyerahkan nyala suci itu kepada Ketua Majelis Jemaat. langkah-langkah iman perlahan memasuki rumah Tuhan, membawa terang yang menuntun dalam keheningan malam.
Dengan langkah perlahan dan hati yang penuh syukur. Ketua Majelis Jemaat, sambil menggenggam lilin dan Alkitab, melangkah memasuki Gedung Gereja bersama para Pendeta, Majelis Jemaat, dan seluruh perangkat pelayan, barisan yang bersatu dalam kasih dan panggilan. Diiringi lantunan lembut Kantoria dan denting haru dari tuts-tuts keyboard, melangkah dalam kekhusyukan malam. Dalam keheningan yang kudus, lilin diletakkan di meja altar sebagai tanda terang Kristus yang menyala abadi, sebelum Ketua Majelis Jemaat melangkah menuju mimbar, tempat sabda Ilahi ditaburkan bagi umat-Nya.
Tepat pukul 24.00 WIT, dentangan lonceng tiga kali menggema, menandai awal ibadah pergumulan HUT ke-121 Jemaat GPM Rehoboth. Dalam cahaya lilin iman yang menyala, tema agung terlantun lirih namun kuat: “Bertumbuhlah dalam Iman, dan berbuahlah bagi kehidupan bersama” (Kol. 2:6-7; Mzm. 133:1-3), menyerukan persaudaraan yang berakar dalam kasih dan berbuah bagi damai di bumi.

Dalam Doa-nya, Ketua Majelis Jemaat, Pdt. W. D. Tuhumena menyampaikan Ibadah pergumulan yang ditandai dengan nyala obor suci, menyalakan semangat dalam dada untuk melayani tanpa pamrih, membangun masyarakat persekutuan yang sarat solidaritas, terajut dalam cinta dan kasih sayang, saling peduli dan menghormati satu sama lain, berakar pada pengorbanan Kristus di kayu salib, agar tetap taat dan setia, melangkah dalam pelayanan dengan takut dan hormat akan Tuhan.
Dalam bentangan waktu 121 tahun Jemaat GPM Rehoboth. Terdiri dari 2.137 Kepala Keluarga, 8.375 jemaat. Tersebar di 21 Sektor, 57 Unit pelayanan. Dipimpin 5 orang Hamba Tuhan, 114 Penatua dan Diaken, 627 Koordinator, 516 pengurus wadah pelayanan dan 317 pengasuh, didukung oleh pelayan liturgi, bersama 19 orang tuagama, 6 orang pegawai Sekretariat serta 3 orang security. Tuhan tetap memakai jemaat ini sebagai alat-Nya yang berarti dan berguna, menyalurkan kasih dan kebenaran dalam pelayanan yang setia, di tengah-tengah dunia, dan di tengah panggilan besar Gereja Protestan Maluku, untuk menjadi saksi-Nya yang hidup sepanjang zaman.
