25 Anak Terima Baptisan Kudus di Jemaat GPM Rehoboth: Meneguhkan Iman dan Tanggung Jawab Orang Tua
REHOBOTH – Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Rehoboth melaksanakan Sakramen Baptisan Kudus bagi 25 orang anak yang tersebar di lima gereja dalam wilayah pelayanan Jemaat Rehoboth.
Baptisan Kudus tersebut dilaksanakan dalam rangkaian Ibadah Natal II, Minggu (26/12/2025), pukul 09.00 WIT, di gereja masing-masing.
Dari total 25 anak yang dibaptis, sebanyak 11 anak dibaptis di Gereja Rehoboth, 2 anak di Gereja Kasih Setia, 1 anak di Gereja Betlehem, 2 anak di Gereja Bukit Sion, dan 9 anak di Gereja Bukit Zaitun.
Sakramen Baptisan Kudus dimaknai sebagai tanda penyucian dan pengukuhan anak-anak sebagai milik Allah, pewaris janji keselamatan, serta penerima karya Roh Kudus.
Baptisan juga menegaskan panggilan iman gereja untuk menaati perintah Kristus sebagaimana tertulis dalam Matius 28:19, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”
Dalam ibadah di Gereja Rehoboth, Firman Tuhan dilayani oleh Pendeta Rita Tuhumena dengan refleksi dari Lukas 2:21-38.
Ia menjelaskan bahwa perayaan Natal II di lingkungan GPM secara tradisional dirayakan dalam bentuk pelayanan Sakramen Baptisan Kudus bagi anak-anak, meskipun dalam praktiknya tidak semua jemaat melaksanakannya.
Pendeta Rita menekankan makna Natal bagi kehidupan anak-anak serta tanggung jawab orang tua dan para saksi baptisan dalam mendampingi pertumbuhan iman mereka. Dari kisah Lukas 2, jemaat diajak memahami masa kecil Yesus, mulai dari kelahiran, penyunatan pada hari kedelapan, hingga penyerahan-Nya kepada Allah sesuai hukum Taurat, yang semuanya dilakukan dalam ketaatan iman Yusuf dan Maria.
Ia menyoroti makna teologis pemberian nama Yesus, yang bukan sekadar identitas sosial, melainkan wujud anugerah Allah dan pergumulan iman orang tua. Nama menjadi tanda pengharapan, doa, dan iman yang dihidupi dalam relasi keluarga dan komunitas.
Hal ini, menurutnya, juga berlaku bagi setiap anak yang menerima Baptisan Kudus, di mana gereja meresmikan identitas iman mereka di hadapan Allah dan jemaat.
“Pemberian nama kepada anak bukan sekadar mengikuti tren atau popularitas, tetapi harus mengandung makna teologis, doa, dan harapan iman orang tua,” tegasnya.
Melalui perayaan Natal II dan Baptisan Kudus ini, jemaat diingatkan akan tanggung jawab besar orang tua untuk mendidik anak-anak sejak dini dalam pengenalan akan Tuhan, menjadikan iman sebagai fondasi hidup, serta meneladankan etika moral dan spiritual dalam keluarga. Anak-anak diharapkan bertumbuh menjadi pribadi yang membawa sukacita, damai sejahtera, dan pengharapan, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi gereja dan masyarakat.
Pendeta Rita menegaskan bahwa Baptisan Kudus bukanlah perayaan seremonial semata, melainkan panggilan untuk mewariskan hidup bersyukur kepada Allah, bukan pesta pora. Anak-anak adalah sumber sukacita, kedamaian, dan harapan masa depan, sehingga orang tua, para saksi, serta mama dan bapa ani dipanggil untuk bersama-sama bertanggung jawab membina dan mendampingi mereka dalam iman.
“Sejak dini, anak-anak perlu dibimbing untuk mengenal Tuhan Yesus, hidup dalam rasa syukur, menghadirkan sukacita dan damai sejahtera di mana pun mereka berada,” pungkasnya. (MCR)
