Rumah Allah Terbuka Bagi Semua, Tanpa Diskriminasi
REHOBOTH – Ibadah Minggu, 2 November 2025 di Gereja Rehoboth dipimpin Pdt. L. Picanussa memberikan pesan rohani yang sangat mendalam, terutama mengenai keadilan sosial dan inclusivitas gereja.
Dalam khotbahnya yang diambil dari Yesaya 56:1-8, Pdt. Picanussa menekankan bahwa rumah Allah terbuka bagi semua orang, tanpa membedakan latar belakang sosial, kondisi fisik, atau status hukum.
Pembacaan kitab Yesaya ini berbicara tentang kembalinya bangsa Israel dari pembuangan dan tugas mereka untuk tidak hanya membangun kembali bait Allah sebagai tempat peribadatan, tetapi juga untuk memperbaharui hubungan mereka dengan sesama. Pdt. Picanussa menekankan bahwa peribadatan yang sejati tidak hanya terfokus pada ibadah ritual di rumah Tuhan, tetapi juga pada relasi sosial yang dibangun berdasarkan keadilan dan kasih.
“Ketika bangsa Israel kembali ke tanah mereka, mereka tidak hanya dipanggil untuk membangun kembali bait Allah secara fisik, tetapi juga untuk membangun kembali hubungan sosial yang benar di antara sesama. Ibadah yang sejati adalah ibadah yang mengalir dalam tindakan kasih, keadilan, dan penghargaan terhadap sesama,”ujarnya.
Dalam pembahasan lebih lanjut, Pdt. Picanussa menjelaskan bagaimana dalam konteks tersebut, orang asing dan orang kebiri menjadi kelompok yang terpinggirkan, dianggap tidak layak untuk masuk ke rumah Allah. Namun, melalui nubuat Yesaya, Tuhan memberikan visi yang baru, bahwa rumah Allah terbuka bagi siapa saja yang ingin datang dengan hati yang tulus dan hidup yang benar. Ini adalah gambaran kasih Allah yang tanpa batas, yang tidak membedakan siapapun yang datang kepada-Nya dengan niat baik.
“Tuhan tidak membedakan siapa yang layak atau tidak layak datang ke rumah-Nya. Yang Tuhan cari adalah hati yang penuh keadilan, kesediaan untuk bertobat, dan hidup yang benar di hadapan-Nya,” tegas Pdt. Picanussa.
Tema “Gereja bagi Semua Orang”. Pdt. Picanussa menekankan bahwa gereja harus menjadi tempat yang menerima semua orang tanpa kecuali. Tidak ada diskriminasi atau pemisahan, bahkan terhadap mereka yang secara sosial atau fisik terpinggirkan. Tuhan memanggil gereja untuk menjadi tempat di mana perbedaan tidak memecah belah, tetapi justru dilihat sebagai anugerah yang memperkaya komunitas iman.
“Perbedaan dalam gereja tidak seharusnya menimbulkan konflik, tetapi harus dipandang sebagai anugerah dari Tuhan. Gereja adalah tempat untuk merayakan keberagaman, bukan untuk membedakan,” ujar Pdt. Picanussa.
Lebih lanjut, Pdt. Picanussa mengingatkan jemaat bahwa pelayanan gereja harus mencerminkan keadilan sosial. Gereja tidak boleh pilih kasih. Dalam pelayanan, gereja harus memperhatikan mereka yang membutuhkan bantuan, seperti para janda, duda, anak yatim piatu, serta orang-orang yang sakit atau dalam kesulitan. Tanggung jawab gereja adalah memastikan bahwa setiap orang mendapatkan haknya dengan adil dan benar, serta diberikan balutan kasih.
“Pelayanan kita tidak boleh pilih kasih. Kita dipanggil untuk memberikan hak-hak mereka yang membutuhkan dengan keadilan, kasih, dan perhatian yang tulus,” ungkap Pdt. Picanussa.
Mengakhiri khotbah, Pdt. Picanussa menegaskan bahwa gereja adalah gereja orang basudara, yang tanpa batas menerima setiap orang. Gereja adalah tempat untuk membalut luka, memberikan harapan, dan menyatukan umat dalam kasih Kristus. Semua umat dipanggil untuk menjadi bagian dari karya keselamatan Allah dan meneruskan kasih-Nya di dunia ini.
“Kita semua terpanggil untuk menjadi orang-orang yang meneruskan karya keselamatan Allah. Gereja adalah tempat yang tanpa batas, gereja yang menyambut setiap orang yang datang dengan hati yang tulus,” tutup Pdt. Picanussa.(RMC)
