Pengumuman

Pesan Gembala Sidang ke-39 Sinode GPM

Hanya oleh kemurahan Allah, gereja Protestan Maluku terus bersaksi dan melayani umat dalam pelayanan di Maluku dan Maluku Utara. Pengakuan iman ini lahir dari pengalaman iman Gereja bersama Tuhan yang memampukan GPM untuk melewati periode demi periode pelayanan dengan tantangan yang sangat beragam. Kemurahan Allah itu juga dirasakan oleh GPM dalam Sidang ke-39 Sinode GPM yang berlangsung sejak tanggal 19-25 Oktober 2025. Suatu masa di mana gereja mengambil waktu untuk mengevaluasi pelayanan sambil mendengarkan suara Tuhan yang membimbing dan menguatkan langkah gereja untuk melangkah ke masa pelayanan baru 2025-2030.

Dengan diterangi oleh tema pelayanan 5 tahun: “Anugerah Allah melengkapi dan meneguhkan gereja menuju Satu Abad GPM (1 Petrus 5:10)”, dan subtema tahun 2026: “Layanilah umat dengan tekun sesuai kasih Allah“, Sidang ke-39 Sinode GPM mengajak semua pelayan dan umat GPM untuk melakukan evaluasi diri sambil terbuka untuk memperbarui hidup dan pelayanannya ke masa depan.

Berlandaskan kesadaran itu, maka Sidang ke-39 Sinode GPM tahun 2025 memberi pesan gembala kepada seluruh umat dan pelayan GPM di Maluku dan Maluku Utara sebagai berikut:

Pertama.
Oleh anugerah Allah kita telah menjadi bagian dari persekutuan orang percaya yang telah diselamatkan-Nya. Karena itu, hargailah karya keselamatan Allah dengan cara bertobat dari semua perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Tetaplah berjalan menuju satu abad GPM dengan terus mengerjakan tugas kita masing-masing dalam iman dan pengharapan yang teguh kepada Tuhan. Tunjukkan komitmen kita kepada Tuhan dan gereja Protestan Maluku dengan selalu menjadi umat dan pelayan yang taat, setia, jujur, peduli terhadap sesama, dan lingkungan (Amsal 3:5-6).

Kedua.
Di tengah realitas hidup keluarga-keluarga Kristen yang penuh dengan masalah, disertai dengan tren perubahan zaman yang dapat menimbulkan kemerosotan akhlak, moral, dan etika, umat dan pelayan diajak untuk memperkuat keluarga (ecclesia domestica) sebagai tempat pertama pewartaan ajaran iman kepada seluruh anggota keluarga. Karena itu, lakukanlah BINAKEL secara terus-menerus dan budayakanlah doa, membaca Alkitab, saling menasihati, saling mengampuni, saling melengkapi, dan menguatkan satu dengan yang lain dalam keluarga (Mazmur 128:1-6, Efesus 6:1-4).

Ketiga.
Menyikapi kondisi kemajemukan di masyarakat yang berpotensi menimbulkan konflik antar keluarga, marga, negeri, kampung, atau ohoi, serta berdampak pada tatanan sosial kemasyarakatan, maka umat dan pelayan diajak untuk meningkatkan kesadaran hidup sebagai “orang basudara”. Kita semua adalah saudara, walau berbeda agama, denominasi, negeri, kampung, atau ohoi. Tetaplah memelihara hidup damai penuh kasih dengan semua orang dan teruslah berdoa untuk perdamaian dunia (1 Korintus 13:4-7, 1 Yohanes 4:7).

Keempat.
Menghadapi krisis yang terjadi di masyarakat, maka pendidikan formal gereja (PFG), pendidikan kader AMGPM, dan pendidikan formal secara umum di masyarakat harus menjadi perhatian seluruh umat dan pelayan di Gereja Protestan Maluku. Karena itu, tingkatkanlah kesadaran pentingnya pendidikan bagi anak sebagai sarana mempersiapkan masa depan anak. Pastikan agar semua anak dalam jemaat dapat mengecap pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi serta ciptakanlah lingkungan belajar yang nyaman dalam keluarga, gereja, dan masyarakat (2 Timotius 3:15-16).

Kelima.
Realitas kemiskinan warga dan ancaman krisis pangan global dapat memperparah hidup masyarakat. Karena itu, ketahanan pangan lokal harus menjadi strategi pemenuhan kebutuhan konsumsi yang perlu diperhatikan seluruh umat dan pelayan. Dengan demikian, gerakan keluarga menanam, melaut, dan memasarkan (GKM) harus terus ditingkatkan oleh umat dan pelayan dengan memanfaatkan tanah kosong dan potensi laut kita guna meningkatkan kesejahteraan hidup (Filipi 4:19).

Keenam.
Di era digitalisasi yang bergerak cepat, umat dan pelayan diajak untuk hidup bijaksana. Jangan memberi diri untuk tergoda dengan gaya hidup konsumtif dan mencari jalan mudah yang salah. Karena itu, jauhilah praktek pinjaman online (PinjOl) dan judi online (JuDol) dalam bentuk apapun. Setiap keluarga harus berusaha memperkuat ekonomi keluarga dengan cara yang benar, melalui kerja keras, pengelolaan uang yang bijak, serta mengembangkan usaha kecil yang bermanfaat. Dengan begitu, ekonomi keluarga akan kuat dan menjadi berkat bagi gereja dan masyarakat (Amsal 13:11, 14:12).

Ketujuh.
Penggunaan media sosial memudahkan umat dan pelayan untuk mengakses informasi, meningkatkan pengetahuan, dan memperluas jangkauan relasi tanpa batas. Namun, dampak negatif dari penggunaan media sosial sulit dibendung, sebab semua orang memiliki kesempatan untuk menggunakan media sosial dan perangkat teknologi sebagai sarana berinteraksi dengan siapapun. Karena itu, kami mengajak umat dan pelayan untuk memanfaatkan media sosial dengan bijak, benar, dan beretika. Standar etika tidak boleh diabaikan. Di media sosial, berusahalah menjaga kata-kata sehingga tidak menimbulkan luka bagi orang lain. Media sosial harus dipakai sebagai sarana untuk memberitakan firman dan meneguhkan harapan untuk hidup bersama yang berkelanjutan (Roma 12:2; 1 Korintus 10:23).

Kedelapan.
Krisis lingkungan telah menjadi pergumulan bangsa dan gereja dari masa ke masa. Sebab, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia, melainkan juga oleh alam sebagai sakramentum Allah. Karena itu, umat dan pelayan diajak untuk memperkuat kesadaran ekologis dan terus melakukan gerakan peduli alam yang berkontribusi bagi kesinambungan hidup bersama seluruh ciptaan. Lestarikan budaya lokal seperti sasi, hawear untuk melindungi lingkungan dari ancaman kerusakan (Kejadian 2:15).

Kesembilan.
Bersyukurlah kepada Tuhan sebab oleh pernyataan-Nya, pelaksanaan Sidang ke-39 Sinode GPM telah berakhir dan Tuhan telah memilih hamba-hambanya untuk menjadi Majelis Pekerjaan Harian Sinode GPM masa pelayanan 2025-2030. Karena itu, doakanlah MPH Sinode GPM, bersama semua pelayan, agar dipenuhi hikmat Allah untuk menjalankan tugas gereja dengan penuh kehambaan dan pengorbanan diri, penuh integritas, serta menjadi teladan bagi semua. Bersama semua pelayan, berpartisipasilah secara aktif dalam pelayanan gereja sebagai wujud berjalan bersama dan dalam menunaikan panggilan gereja di tengah dunia (1 Korintus 15:8, 1 Timotius 2:1-2).

Kesepuluh,
Masukilah perayaan Adventus Natal akhir tahun 2025 dan tahun baru 2026 sebagai momentum yang meneguhkan iman, dengan terus meningkatkan spiritualitas yang berdampak langsung pada relasi hidup dalam keluarga, gereja, dan masyarakat yang aman, tentram, dan damai. Rayakanlah momen-momen penting itu dalam semangat ugahari hidup dengan secukupnya agar dapat berbagi dengan sesama.

Demikianlah pesan Sidang ke-39 Sinode GPM ini kami sampaikan kepada seluruh umat dan pelayan GPM yang berada di Maluku dan Maluku Utara. Kami berdua berharap semoga Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja, menuntun dan menolong kita semua sebagai umat dan pelayan-Nya.

“Aku Menanam, Apolos Menyiram, Tetapi Allah yang Memberi Pertumbuhan” (1 Korintus 3:6).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *