Berita

Ibadah Persiapan Natal di Rehoboth: Menanti Kristus Dalam Damai Yang Memulihkan

REHOBOTH – Ibadah Minggu malam persiapan Natal di Gereja Rehoboth, Selasa (24/12/2025), berlangsung dengan penuh khidmat dan nuansa sakral. Tiga kali dentang lonceng bergema, menandai dimulainya ibadah, ketika pelayan firman, Pendeta Rita Tuhumena, memasuki ruang ibadah bersama majelis jemaat dalam prosesi yang tenang dan tertib. Keheningan pun menyelimuti jemaat saat lilin dinyalakan, menjadi lambang terang Kristus yang hadir di tengah umat, menerangi penantian dan harapan menjelang malam kudus.

Cahaya pohon Natal menerangi ruang ibadah, sementara puji-pujian menggema sebagai ungkapan syukur jemaat menyongsong kelahiran Sang Juruselamat. Ibadah dilanjutkan dengan pengakuan dosa, mengajak umat merendahkan diri di hadapan Tuhan dalam kesadaran akan kasih dan pengampunan-Nya.

Firman Tuhan diambil dari Yesaya 52:7-10. Dalam khotbahnya, Pendeta Rita mengingatkan bahwa umat telah berada di penghujung Minggu Adventus tahun 2025. Empat Minggu Adventus yang telah dilalui bukan sekadar penantian liturgis, tetapi proses rohani untuk mempersiapkan diri, baik secara pribadi, dalam keluarga, maupun sebagai persekutuan orang percaya, menyambut kedatangan Kristus.

Ia menggambarkan realitas menjelang Natal di Kota Ambon yang semakin ramai, dengan berbagai kesibukan keluarga mempersiapkan diri menyambut malam kudus.

Menurutnya, kesibukan memperhatikan penampilan dan persiapan lahiriah adalah hal yang wajar. Namun, di balik itu semua, tidak sedikit orang menyimpan kelelahan batin, pergumulan ekonomi, serta kekhawatiran akan hari esok.

“Di tengah realitas inilah Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa menantikan Natal Kristus bukan hanya soal tanggal 25 Desember, melainkan menanti Tuhan yang datang membawa damai, damai yang menenangkan hati di tengah hiruk-pikuk dunia,” ungkapnya.

Pendeta Rita menjelaskan bahwa bacaan Yesaya menggambarkan suasana umat Israel yang hidup dalam pembuangan Babel. Meski berada dalam tekanan dan penderitaan, mereka menerima kabar sukacita tentang janji Allah yang membebaskan dan memulihkan. Kabar baik itu berisi tiga hal utama: keselamatan, damai sejahtera, dan pengakuan bahwa Allah memerintah sebagai Raja atas umat-Nya.

Bagi orang percaya, lanjutnya, janji tersebut telah digenapi dalam diri Yesus Kristus yang lahir di Betlehem. Dalam diri-Nya ada keselamatan, damai sejahtera, dan Kerajaan Allah yang nyata. Apa yang dahulu diharapkan umat Israel kini menjadi realitas iman bagi gereja masa kini.

Ia menegaskan empat sikap penting dalam ibadah persiapan Natal. Pertama, kota dan kehidupan umat harus berada dalam suasana penantian yang menghadirkan damai sejahtera bagi diri sendiri dan sesama. Kedua, menanti Tuhan dengan iman, bukan dengan kegelisahan, sebab Yesus hadir sangat dekat dengan kehidupan manusia, lahir bukan di istana, melainkan dalam kesederhanaan, sebagai tanda bahwa Tuhan hadir dalam realitas hidup apa adanya.

Ketiga, umat dipanggil menjadi “penjaga iman” seperti para penjaga Yerusalem yang bersorak sorai, yakni menjaga iman dalam keluarga, lingkungan, dan jemaat. Menanti Tuhan dalam damai berarti tidak larut dalam ketakutan, melainkan setia berdoa dan berharap, karena damai Natal tidak hadir karena semua masalah selesai, tetapi karena keyakinan bahwa Tuhan selalu hadir di tengah persoalan.

Keempat, Natal adalah tanda bahwa Tuhan masuk ke dalam luka batin manusia untuk memulihkannya. Dalam konteks Israel, Yerusalem yang hancur dipulihkan oleh Allah. Gambaran ini, menurutnya, sangat dekat dengan pengalaman banyak orang masa kini, usaha yang sulit, anak-anak muda yang terjerat narkoba, keluarga yang terjebak judi, hingga iman yang goyah. Namun Tuhan hadir untuk menghibur dan memulihkan.

“Damai sejahtera Tuhan bukan hanya untuk dinikmati secara pribadi atau dalam keluarga, tetapi harus disaksikan dan dibagikan kepada dunia,” tegasnya, mengacu pada Yesaya 52:9.

Menjelang perayaan Natal keesokan harinya, jemaat diajak membuka hati bagi damai Kristus, mengosongkan dendam dan kebencian, menggantikan kebiasaan bergosip dengan memberitakan hal-hal baik, serta menjaga damai tetap bersemi dalam keluarga dengan kesediaan untuk berdamai dan saling memulihkan.

Ibadah persiapan Natal itu menjadi pengingat bahwa Natal sejati adalah ketika damai Kristus tinggal dan menetap dalam hati, keluarga, jemaat, dan kehidupan bersama.(MCR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *