Allah Hadir Dalam Kerendahan Membawa Keselamatan, Pesan Natal Menggema di Gereja Rehoboth
REHOBOTH – Ibadah Natal 25 Desember 2025 di Gereja Rehoboth berlangsung dengan penuh khidmat dan nuansa sukacita. Perayaan Natal ini menjadi momentum iman bagi jemaat untuk meneguhkan keyakinan bahwa Allah berkenan hadir ke dalam dunia melalui kelahiran Yesus Kristus, Sang Juruselamat, yang datang dalam kerendahan hati untuk membawa keselamatan bagi manusia.
Ibadah dipimpin dengan pembacaan Firman Tuhan dari Yesaya 9:1-6 dan Lukas 2:1-7, serta pelayanan khotbah oleh Pendeta J. Fabeat.
Dalam khotbahnya, Pdt. Fabeat menegaskan bahwa peristiwa Natal merupakan penggenapan janji keselamatan Allah yang telah dinubuatkan oleh para nabi sejak ratusan tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus.
Menurutnya, nubuatan tentang kelahiran Sang Juruselamat, sebagaimana disampaikan oleh nabi Yesaya, digenapi di Betlehem sekitar 700 tahun.
“Natal adalah bukti otentik bahwa Allah sungguh hadir dalam diri Yesus Kristus. Apa yang dahulu diberitakan sebagai janji keselamatan kini telah menjadi kenyataan,” ujar Pdt. Fabeat.
Ia menjelaskan bahwa kelahiran Yesus bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan bagian dari rencana besar Allah. Kehadiran orang-orang bijak dari Timur juga menjadi pengakuan historis bahwa Yesus lahir sebagai Raja.
Hal ini, kata dia, menegaskan bahwa kisah Natal bukan sekadar cerita iman, tetapi peristiwa nyata dalam sejarah keselamatan manusia.
Lebih lanjut, Pdt. Fabeat menekankan bahwa makna Natal tidak hanya terletak pada fakta historis kelahiran Yesus, tetapi pada kesadaran iman bahwa Allah yang Mahakuasa rela merendahkan diri dan hadir dalam kehidupan manusia sehari-hari. Allah tidak tinggal jauh, melainkan dekat, memahami penderitaan, dan bergumul bersama umat-Nya.
Ia juga mengingatkan bahwa akar persoalan dosa muncul ketika manusia ingin menempatkan diri sebagai Allah. Karena itu, keselamatan dinyatakan melalui cara Allah sendiri datang menjadi manusia. Inilah kabar baik Injil, Yesus Kristus datang membawa keselamatan dan sukacita bagi dunia.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, Natal menjadi ajakan bagi jemaat untuk melakukan introspeksi ima, apakah kehadiran mereka telah menjadi pembawa damai dan sukacita, atau justru sebaliknya.
“Beriman kepada Kristus seharusnya membuat hidup kita menjadi berkat bagi sesama,” tegasnya.
Makna Natal, lanjut Pdt. Fabeat, sangat relevan dengan realitas kehidupan umat yang sepanjang tahun bergumul dengan berbagai persoalan, mulai dari relasi keluarga, tanggung jawab hidup, hingga penderitaan yang dialami. Namun Natal menegaskan bahwa kegelapan tidak akan menguasai hidup manusia, sebab terang Kristus telah hadir memberi pengharapan dan kekuatan baru.
Sebagai wujud penghayatan Natal, jemaat diajak menghadirkan damai sejahtera sebagai sikap hidup, dimulai dari keluarga melalui komunikasi yang jujur, saling mengampuni, serta membangun rumah tangga sebagai ruang kasih. Selain itu, jemaat juga didorong untuk peka terhadap penderitaan sesama, khususnya mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Ibadah Natal diisi dengan persembahan pujian dari Paduan Remaja Pemuda Jemaat Rehoboth serta Vocal Group Keluarga Nenkeula, yang menambah suasana ibadah semakin penuh syukur dan sukacita.
Melalui perayaan Natal ini, jemaat Gereja Rehoboth diteguhkan untuk menjadi saksi Kristus yang menghadirkan damai dan sukacita dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya pada momentum Natal, tetapi sepanjang tahun dan sepanjang hidup.(MCR)
