Adventus dan Bahasa Kebaikan: Ketika Pengharapan Menjadi Tindakan Menyambut Kristus
REHOBOTH – Ibadah Minggu Adventus pertama di Gereja GPM Rehoboth, Minggu (30/11/2025), menjadi ruang perenungan yang sarat makna ketika Pdt. J. E. Tamtelahitu menyampaikan khotbah berdasarkan Matius 25:31-46.
Dalam suasana penuh kesederhanaan dan kekhusyukan, jemaat diajak kembali memahami bahwa Adventus bukan sekadar tradisi, melainkan panggilan untuk membenahi hidup dan menunjukkan kasih dalam tindakan nyata.
Pendeta Tamtelahitu membuka renungannya dengan gambaran yang sangat akrab bagi umat. Menjelang Desember, rumah-rumah dibenahi, pekarangan dibersihkan, lampu-lampu Natal dipasang, dan pohon Natal berdiri menghiasi ruang tamu. Di kota Ambon sendiri, pohon-pohon Natal mulai ditancapkan di berbagai titik kota, menambah ceria wajah ibu kota provinsi. Semua itu, bukan hanya demi menyambut hari raya, tetapi juga karena akan adanya banyak tamu, tetangga, kerabat, dan basudara, yang akan datang.
“Rumah kita dibenahi bukan saat Natal tiba, tetapi jauh sebelumnya. Di situ ada pengharapan, kerinduan, kesiapan,” ujarnya.
Dengan cara yang sama, memasuki minggu-minggu Adventus berarti umat sedang menata rumah rohani; membersihkan hati, menata jiwa, dan mempersiapkan diri menyambut Kristus yang datang.
“Menunggu bukan berarti pasif, menunggu adalah bertindak menyediakan ruang bagi kasih Allah untuk bekerja melalui kita,”ucapnya.
Melalui Matius 25:31-46, jemaat kembali diingatkan bahwa ketika Kristus datang kembali dalam kemuliaan-Nya, Ia tidak memeriksa ritual, hafalan ayat, jabatan gerejawi, atau seragam pelayanan. Ukurannya sangat sederhana, namun sangat dalam, apakah memberi makan ketika seseorang lapar, memberi minum ketika ia haus, memberi pakaian ketika ia telanjang, mengunjungi ketika ia sakit atau dipenjara.
“Perikop ini menegaskan bahwa ukuran penghakiman Tuhan bukan ritual, melainkan kebaikan nyata yang dilakukan kepada mereka yang membutuhkan. Apa yang kita lakukan kepada sesama, itu kita lakukan kepada Yesus,”tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa kebaikan bukanlah opsi tambahan, melainkan identitas umat Tuhan. Kebaikan adalah bahasa pengharapan. Pengharapan yang sejati tidak hanya berkata, Tuhan akan datang, tetapi juga berseru: Sebelum Engkau datang, Ya Tuhan, izinkan aku menjadi tanda kasih-Mu bagi dunia.
Pendeta juga menyoroti kebiasaan menjalani minggu-minggu Adventus dengan banyak perayaan, dari sektor, unit, wadah pelayanan, hingga kantor dan sekolah. Semua itu seringkali berubah menjadi pesta pora dan hura-hura, sementara makna Adventus perlahan memudar.
“Semeriahnya ibadah kita, seindah apapun pujian kita, setinggi apapun jabatan kita dalam pelayanan atau jabatan publik, tetapi jika tidak ada perbuatan kasih kepada mereka yang susah, semua itu sia-sia,”tegasnya.
Karena itu, Pdt. Tamtelahitu mengajak jemaat untuk memaknai Adventus bukan hanya dengan liturgi, tetapi dengan tindakan kasih: melayani janda, anak yatim piatu, orang miskin, orang sakit, mereka yang terpinggirkan.
“Setiap kali kita melakukan itu, kita sedang berkata Tuhan, aku menantimu,”ujarnya dengan lembut.
Di akhir ibadah, pesan Adventus kembali ditegaskan, bahwa persiapan menyambut Kristus bukan hanya urusan gereja sebagai lembaga, tetapi panggilan setiap pribadi. Rumah rohani harus dibenahi, hati harus disucikan, dan kasih harus diwujudkan. (MCR)
