“Dari Sungai ke Laut, Kembali ke Meja Makan”
Ada seorang bapak namanya Pak Minggus, seorang pria paruh baya yang tinggal di pinggiran kota kecil di tepi sungai Wae Batu Gantung. Setiap hari ia berjalan kaki melewati jembatan untuk bekerja di pasar. Di bawah jembatan itu, sungai yang dulu bening kini hitam, kotor dan penuh bau busuk. Botol plastik, popok, dan sisa makanan mengambang seperti aliran kelalaian manusia yang terus mengalir.
Pak Minggus termasuk salah satu orang yang tak peduli dengan keberadaan sungai. Ia sendiri sering membuang kantong plastik ke sungai dengan anggapan, “Ah, air akan bawa pergi semua.”
Namun suatu hari, cucunya Cemu, pulang dari bermain dengan wajah pucat. Ia mengeluh perutnya sakit setelah makan ikan bakar yang tadi dipancing bersama teman-temannya dilaut dekat muara sungai tempat mereka tinggal. Beberapa hari kemudian, hasil laboratorium menunjukkan bahwa ikan itu mengandung logam berat dan mikroplastik.
Dokter berkata singkat, “Pak, laut kita sedang sekarat. Dan yang paling dulu menanggungnya… kita sendiri.“
Pak Minggus sangat terpukul.
Ia mulai membaca dan mencari tahu dan dari informasi yang ia kumpulkan, ia terkejut mengetahui bahwa 70% oksigen di bumi berasal dari plankton laut, makhluk kecil yang hidup jauh di bawah permukaan laut. Tapi kini, plankton itu mulai mati, karena plastik mikro dan limbah yang mengapung dari sungai ke laut telah mencemari mereka. Bumi kehilangan paru-parunya. Manusia kehilangan masa depannya.
Suatu pagi, Pak Minggus berdiri di depan warga kompleksnya dan berkata dengan suara parau: “Kita kira membuang sampah ke sungai adalah membuang masalah. Tetapi sesungguhnya, kita sedang mengirim racun kembali ke meja makan kita sendiri.”
Sejak saat itu terjadi perubahan signifikan, bahwa warga mulai membuat tong sampah di setiap rumah kemudian dibuang pada tempat yang akan diangkut oleh truk sampah, membentuk kelompok patroli sungai, mengajak anak muda membersihkan tepi sungai, dan menanam tanaman air yang menyerap racun. Warga yang dulu stecu, kini ikut serta.
Beberapa tahun kemudian, sungai itu mulai jernih kembali. Ikan-ikan kecil bermain di tepi, dan burung-burung kembali bersarang di pohon sepanjang aliran sungai.
Kisah Pak Minggus mencerminkan kebenaran dari Kejadian 6:17–22, di mana Allah menyatakan akan menghancurkan bumi dengan air bah karena kejahatan manusia. Namun, Allah tetap menyediakan jalan keselamatan melalui bahtera Nuh, yang tidak hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga seluruh ciptaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa Tuhan peduli akan keberlanjutan ciptaan, bukan hanya manusia.
Pak Minggus, seperti Nuh, menjadi alat pemulihan, ia sadar akan kerusakan yang ditimbulkan oleh manusia sendiri terhadap alam, dan memilih untuk bertobat serta bertindak. Kisahnya adalah bentuk “bahtera kecil” zaman kini: sebuah tindakan sederhana yang menyelamatkan kehidupan dan membawa harapan bagi generasi berikut.
created tim
