Berita

Dua Secondus Jemaat Rehoboth Dithabiskan : Sebuah Ikrar Setia di Altar Kudus

REHOBOTH – Di hadapan altar yang kudus, di bawah terang Firman dan dalam hadirat Allah Tritunggal yang hidup. Dua Secondus masa pelayanan 2025-2030 secara resmi dithabiskan, menanggalkan kehendaknya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada panggilan pelayanan.

Penthabisan dua pelayan khusus oleh Ketua Majelis Jemaat GPM Rehoboth, Pdt W. D. Tuhumena, dilakukan pada Kebaktian Minggu malam, 13 Juli 2025, menjadi saksi dari peristiwa penuh makna itu. Penatua Musper David Soumokil dari Unit 1 Sektor Galilea dan Diaken Otniel Tutuboy dari Unit 1 Sektor Zaitun menerima penumpangan tangan dari para pelayan Firman sebagai tanda pengutusan resmi mereka untuk melayani umat.

Dengan liturgi yang sakral, prosesi pentahbisan berlangsung khidmat. Ketua Majelis Jemaat, Pdt. W. D. Tuhumena, memimpin prosesi ini bersama tiga rekan pelayannya; Pdt. J. Tamtelahitu, Pdt. Ny. R. Tuhumena, dan Pdt. R. Hatalaibessy di dampinggi para penatua/diake (Majelis Jemaat), serta Umat yang hadir menyaksikan momen ini dalam keheningan penuh hormat, seolah menyadari bahwa panggilan ini bukan hanya seremoni, melainkan pernyataan iman yang berani dan berserah.

Pentahbisan ini bukan tanpa dasar. Prosesnya mengacu pada Surat Keputusan Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Nomor 258/I/MJ, tertanggal 10 Juni 2025, ditandatangani oleh Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. E. T. Maispaitella, M.Si, dan Sekretaris Umum, Pdt. S. I. Sapulette, M.Si. Menindaklanjuti Surat Majelis Pekerja Klasis GPM Pulau Ambon tertanggal 5 Juni 2025. Semua dilaksanakan sesuai Tata Gereja, Peraturan Pokok tentang Jemaat, dan petunjuk teknis pemilihan Penatua dan Diaken masa pelayanan 2025–2030.

Namun malam itu bukan semata-mata soal legalitas. Firman Tuhan dari Ayub 28:20–28 yang direfleksikan oleh Pdt. Boy Tuhumena menjadi pelita batin yang menuntun para pelayan yang baru saja dipercayakan tanggung jawab mulia.

“Pelayanan bukan sekadar pekerjaan tangan, tapi pekerjaan hati yang berhikmat. Hikmat itu tidak ditemukan dalam kepandaian dunia, tetapi dalam takut akan Tuhan,” ujar Pdt Tuhumena yang biasa disapa Pdt Boy, dengan suara yang menggema lembut namun tegas.

 

Ia mengingatkan, bahwa dalam setiap tugas pelayanan, harus ada dasar kasih, hormat, dan ketaatan. Dan menjauhi kejahatan adalah bentuk nyata dari pengertian yang sejati.

Menutup Khotbah-nya, Pdt Boy berpesan Tetaplah rendah hati dalam mencari kehendak Allah. Karena hanya dalam Dia, segala pekerjaan menjadi berkat, dan segala jerih payah menjadi kesaksian.

Momen Kudus itu menjadi saksi, bahwa panggilan pelayanan akan selalu menemukan rumahnya di hati yang berserah, di jiwa yang siap berjalan dalam kasih dan takut akan Tuhan.

“Tuhan yang memanggil, adalah Tuhan yang menyertai. Dan dalam penyertaan-Nya, ladang pelayanan akan terus tumbuh dan berbuah”. (TMC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *