Berita

Hidup Sebagai Anak-Anak Terang di Tengah Zaman yang Terus Berubah

REHOBOTH – “Zaman berubah, cara hidup pun ikut bergeser, tetapi Firman Tuhan tetap sama.” Kalimat itu mengalir penuh makna dari bibir Pdt. J. M. Souhoka saat memimpin ibadah Minggu, 9 November 2025, di Gereja Rehoboth.

Dengan bacaan firman dari Efesus 5:1-20 dan tema Minggu “Gereja yang Arif Menyikapi Perubahan Zaman”, ia mengajak jemaat untuk merenungkan kembali panggilan hidup sebagai anak-anak terang di tengah dunia yang terus berubah.

Dalam suasana ibadah Minggu kedua bulan November yang hangat dan penuh syukur, Pdt. Souhoka membuka khotbahnya dengan ungkapan syukur atas kesetiaan Tuhan.

“Sudah ada di Minggu kedua bulan November, dan kita bersyukur bahwa Tuhan masih tetap setia ada dan terus memelihara kita punya hidup sampai hari ini,” ujarnya.

Zaman yang Berubah, Nilai yang Bergeser

Ia kemudian menyoroti realitas perubahan zaman yang begitu cepat, di mana teknologi, media sosial, dan gaya hidup modern telah menggeser nilai-nilai kebersamaan dan kasih yang dulu menjadi kekuatan dalam kehidupan masyarakat.

“Dolo-dolo waktu kecil, permainan sekolah batu, Leng kali Leng, Enggo Basambunyi, Asen, di situ nilai kebersamaan dan kekerabatan sangat tinggi. Kita saling tahu satu sama lain, walaupun hanya sebatas tetangga. Sekarang tidak begitu lagi. Masing-masing orang sibuk dengan smartphone, di dalamnya ada game, film, dan banyak pilihan,” tuturnya.

Menurutnya, kemajuan teknologi adalah bukti perkembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa, namun di sisi lain juga membawa tantangan baru bagi iman dan relasi sosial manusia.

“Kita butuh internet, kita butuh media, tapi harus hati-hati menyikapinya. Tanpa sadar cara berpikir kita berubah, cara hidup jemaat pun bergeser. Hal-hal pribadi kadang terobral di media sosial dengan cepat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kondisi itu membuat pengendalian diri atau kontrol sosial semakin lemah. Bahkan, kata Pdt. Souhoka, banyak konflik terjadi karena orang mudah mempercayai informasi yang belum tentu benar.

“Masalah suami dan istri cepat terekspos padahal sifatnya rahasia. Kita jadi tidak saling menghargai, hanya termakan berita atau kabar yang tidak benar,” tegasnya.

“Bahkan hubungan antara orang tua dan anak pun mulai renggang karena cara berpikir kita berbeda dengan generasi sekarang, generasi Alfa,” tambahnya.

Gereja Tidak Boleh Berdiam Diri

Melihat kenyataan ini, Pdt. Souhoka mengingatkan bahwa Gereja tidak boleh berdiam diri. Gereja harus hadir dengan hikmat untuk menuntun umat menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai anak-anak Tuhan.

“Efesus 5:1-20 menarik untuk dicakapkan. Jemaat Efesus saat itu juga hidup di tengah dunia yang berubah, bahkan di kota yang dikenal sebagai pusat penyembahan berhala. Karena itu Paulus menasihati mereka agar tetap hidup dalam kasih dan menjauhi segala bentuk kejahatan,” jelasnya.

Menurutnya, nasihat Rasul Paulus yang mengatakan, “Jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih,” menjadi pesan utama bagi umat masa kini.

“Artinya, kalau kita mau hidup dalam kasih, maka kita harus menaati Allah dengan tulus, bukan karena terpaksa. Kasih itu lahir dari hati yang murni, dari iman yang sungguh,” ujarnya.

Pdt. Souhoka menegaskan, siapa pun yang sungguh menghayati cinta kasih dan pengorbanan Kristus, pasti akan berusaha menjauhi diri dari kejahatan, baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan.

“Kasih Kristus itu harus menjadi cermin dalam hidup kita, sehingga kita mampu menolak hal-hal yang kotor, serakah, dan tidak benar,” katanya.

Menjadi Teladan dan Saling Menopang

Di akhir khotbahnya, ia berpesan kepada para orang tua agar menjadi teladan bagi anak dan cucu, menanamkan nilai kasih dan iman di tengah derasnya arus modernitas.

“Orang tua harus bisa jadi contoh, jadi teladan yang baik bagi anak, cucu, dan masa depan mereka,” ujarnya.

“Semoga katong laeng deng laeng bisa saling topang, bernyanyi, bersyukur bersama, supaya hidup kita bisa jadi berkat bagi banyak orang, dan melalui katong pung hidup, Tuhan terus dimuliakan di mana-mana,” tutupnya dengan penuh kasih.(RMC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *