Ibadah Minggu: Allah Yang Hadir dan Membebaskan
REHOBOTH – Ibadah Minggu di Gereja Rehoboth, 11 Januari 2026, berlangsung khidmat dan penuh perenungan.
Dalam suasana awal tahun, Pdt. W.D. Tuhumena mengajak jemaat menapaki perjalanan 2026 dengan iman dan pengharapan melalui perenungan Firman Tuhan dari Keluaran 3:1-15, tentang panggilan Musa dan penyingkapan nama Allah, Yahweh.
Pendeta Tuhumena mengawali khotbah dengan refleksi bahwa jemaat kini telah memasuki pertengahan Januari 2026, sementara perjalanan tahun ini masih panjang.

Awal tahun, menurutnya, sering kali dimulai dengan harapan baru, namun tidak jarang juga disertai kecemasan, apakah tahun ini akan lebih baik dari tahun sebelumnya, apakah pergumulan hidup dapat terselesaikan, dan apakah Tuhan sungguh berjalan bersama umat-Nya.
Melalui tema minggu ini “Aku adalah Aku: Kemuliaan Allah Membebaskan Hidupmu”, Pdt. Tuhumena menegaskan bahwa perjalanan iman di awal tahun dapat diibaratkan seperti Musa yang menggembalakan domba di padang gurun. Jalan itu panjang, sunyi, dan melelahkan. Namun justru di tengah kesunyian itulah Allah menyatakan kemuliaan-Nya dan memanggil Musa untuk menjadi alat pembebasan.
Firman Tuhan, katanya, mengajak jemaat memulai tahun 2026 dengan keyakinan bahwa Allah yang disembah dalam Tuhan Yesus Kristus adalah Allah yang selalu hadir, setia, dan membebaskan. Ungkapan “Aku adalah Aku” menegaskan bahwa Allah senantiasa ada, menyertai umat-Nya dari sekarang hingga selama-lamanya.
Dalam penjelasan ayat 1-3, ia menekankan bahwa Allah menyatakan kemuliaan-Nya di tengah rutinitas kehidupan. Kemuliaan Allah tidak terikat pada tempat-tempat yang dianggap suci semata, tetapi justru hadir dalam keseharian manusia. Karena itu, jemaat diajak untuk tetap setia menjalankan tanggung jawab iman, baik dalam keluarga maupun di tempat kerja.
“Bisa saja di awal tahun 2026 hidup terasa biasa-biasa saja,” ujarnya. “Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah sanggup menyatakan kemuliaan-Nya di tengah kehidupan yang sederhana, asal kita mau seperti Musa, berhenti sejenak, menoleh, dan memperhatikan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita,” katanya, merujuk pada ayat 4-6.
Allah memanggil Musa secara pribadi dan penuh kasih, menyebut namanya, lalu memerintahkan Musa untuk menanggalkan kasutnya karena tempat itu kudus. Dari peristiwa ini, jemaat diajak memasuki tahun 2026 dengan kerendahan hati, menanggalkan kesombongan dan kebiasaan hidup yang menjauhkan diri dari Tuhan. Tanpa kekudusan, manusia tidak dapat mengalami kekudusan Allah.
Lebih lanjut, melalui ayat 7-10, Pdt. Tuhumena menegaskan bahwa Allah adalah Allah yang melihat, mendengar, bertindak, dan membebaskan. Ini menjadi pengharapan besar, bukan hanya bagi bangsa Israel pada masa Musa, tetapi juga bagi umat Tuhan masa kini. Allah tidak tuli terhadap doa umat-Nya dan tidak tinggal diam terhadap penderitaan mereka.
Puncak perenungan disampaikan saat membahas penyingkapan nama Allah, “Aku adalah Aku.” Ketika Musa merasa tidak layak dan dipenuhi ketakutan, Tuhan menjawab dengan janji penyertaan-Nya. Nama Allah ini menegaskan bahwa Dia tidak berubah oleh waktu, selalu hadir, dan berdaulat atas kehidupan anak-anak-Nya.
“Allah yang kita sembah dalam Tuhan Yesus Kristus adalah Alfa dan Omega (awal dan akhir), Imanuel (Allah beserta kita), Allah yang beserta dengan kita,” tutupnya.
Jemaat diajak melangkah di tahun 2026 dengan iman, percaya bahwa Allah senantiasa membebaskan dari berbagai belenggu, agar hidup umat-Nya menjadi kesaksian bagi hormat dan kemuliaan nama Tuhan.

Puji-pujian yang dipersembahkan oleh anak-anak yang tergabung dalam Jukulele Batu Gantung Sombayang, Paduan Suara Campuran Jemaat Rehoboth, serta solo yang dibawakan oleh Ona Tanifan, menghadirkan suasana syukur yang mendalam dan meneguhkan pengharapan jemaat untuk melangkah bersama Tuhan di sepanjang tahun pelayanan. (MCR)
