Iman Perwira Teladan Bangun Keluarga Sehat Rohani Jasmani
REHOBOTH – Keteladanan iman seorang perwira di Kapernaum menjadi refleksi penting bagi jemaat Gereja Rehoboth untuk membangun keluarga yang sehat, kuat, dan seimbang antara kebutuhan jasmani maupun rohani dalam Ibadah minggu di gereja Rehoboth (26/04).
Pesan tersebut disampaikan Pendeta Rita Tuhumena saat memimpin ibadah dengan pembacaan Firman Tuhan dari Matius 8:5-13 tentang Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum.
Dalam khotbahnya, Pendeta Rita menegaskan bahwa kisah perwira di Kapernaum menjadi teladan penting bagi setiap keluarga Kristen dalam membangun rumah tangga yang sehat, baik secara jasmani maupun rohani. Menurutnya, iman sang perwira menunjukkan keyakinan luar biasa kepada kuasa Yesus, bahkan tanpa harus datang langsung ke rumahnya.
“Perwira itu datang bukan untuk dirinya sendiri, tetapi demi hambanya yang sedang sakit. Ini menunjukkan kasih, kepedulian, dan tanggung jawab seorang kepala rumah tangga terhadap orang-orang yang dipercayakan kepadanya,” ungkap Pendeta Rita di hadapan jemaat.
Ia menjelaskan, keluarga yang sehat secara jasmani dibangun melalui perhatian, kasih sayang, pola hidup bersih, serta kepedulian satu sama lain. Orang tua perlu hadir mendampingi anak-anak, menjaga lingkungan rumah tetap sehat, dan saling menopang ketika anggota keluarga sedang lemah atau sakit.
Selain itu, kesehatan rohani menurutnya dimulai ketika keluarga menempatkan Tuhan sebagai kepala rumah tangga. Dalam setiap persoalan hidup, baik ekonomi, kesehatan maupun konflik keluarga, umat diajak untuk mengandalkan Tuhan sebagai sumber pertolongan utama.
“Sering kali konflik muncul karena manusia lebih mengandalkan kekuatan sendiri. Padahal rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang tunduk pada otoritas Tuhan dan menjadikan Firman sebagai dasar setiap keputusan,” ujarnya.
Pendeta Rita juga menyoroti kerendahan hati sang perwira Romawi yang berkata kepada Yesus bahwa dirinya tidak layak menerima kedatangan Tuhan ke rumahnya. Sikap itu, katanya, menjadi contoh bahwa iman sejati lahir dari kerendahan hati dan kesadaran akan kebesaran Allah.
Ia menambahkan, keselamatan dan kasih Tuhan terbuka bagi semua orang tanpa memandang latar belakang suku, status sosial, maupun bangsa. Karena itu gereja dan keluarga dipanggil menjadi tempat yang penuh kasih, penerimaan, dan keharmonisan.
Menutup khotbahnya, Pendeta Rita mengajak seluruh jemaat untuk terus membangun komunikasi yang jujur, mengucapkan kata-kata berkat dalam keluarga, serta menjadikan rumah tangga sebagai tempat pertumbuhan iman dan kasih.
Dalam ibadah tersebut, suasana semakin khidmat dengan pujian dari Paduan Suara Perempuan Jemaat. Selain itu, dilaksanakan pula Baptisan Kudus bagi anak terkasih Nigel Rivcy Kastanja.
