Koinonia Laki-Laki Siloam Rehoboth Hadirkan Sukacita dan Topangan Nyata bagi Jemaat Nukuhai-Pasinalo
NUKUHAI-PASINALO, REHOBOTH – Empat hari di Nukuhai-Pasinalo menjadi lebih dari sekadar agenda pelayanan. Koinonia Wadah Pelayanan Laki-Laki Sektor Siloam Jemaat GPM Rehoboth menjelma sebagai perjalanan batin yang merangkul kembali semangat basudara antara dua jemaat, mengalir hangat dari tanggal 21 hingga 24 November 2025.
Dalam kebersamaan itu, Siloam Rehoboth datang bukan hanya membawa tenaga dan bantuan, tetapi juga menghadirkan sukacita, harapan, dan topangan nyata bagi Jemaat GPM Nukuhai-Pasinalo yang sedang membangun rumah ibadah mereka.
Kehadiran rombongan Siloam Rehoboth disambut penuh kasih oleh Ketua Majelis Jemaat GPM Nukuhai-Pasinalo, Ronald Selano, bersama seluruh perangkat PHMJ. Pengalungan syal menjadi simbol penerimaan dan persaudaraan yang hangat.
“Atas nama jemaat, kami menyampaikan terima kasih. Kehadiran Wadah Pelayanan Laki-Laki Sektor Siloam sangat berarti bagi kami,” ujar Pdt Selano.

Ia menegaskan bahwa pembangunan gedung gereja yang sedang berjalan merupakan pekerjaan besar yang tak mungkin dipikul sendiri oleh jemaat Nukuhai-Pasinalo.
“Kami menyadari, pekerjaan ini tidak mungkin kami lakukan sendiri. Banyak topangan yang kami butuhkan. Kehadiran Siloam Rehoboth adalah jawaban Tuhan. Ini bukan hanya inisiatif manusia, tetapi campur tangan Tuhan yang luar biasa,” tambahnya.
Sementara itu, Pendeta Lily Picanusa, selaku Pdt pendamping Laki-Laki Siloam menyampaikan bahwa kehadiran tamu dalam pelayanan adalah berkat yang tak ternilai.

“Untuk Beta, Wadah Pelayanan Laki-Laki Sektor Siloam luar biasa, walaupun hanya beberapa, tetapi semangat mereka luar biasa,” ucapnya. Ia pun menilai bahwa kebersamaan yang terjalin tidak bisa dibeli dengan apapun.
Menurutnya, kegiatan yang dilakukan mencakup penanaman bibit tanaman umur panjang; pala, rambutan, dan mangga di kebun jemaat Nukuhai-Pasinalo, penyerahan bantuan material, serta kerja bakti pembuatan batako, hingga pelayanan musik melalui paduan terompet Sektor Siloam. Semua itu menjadi bukti bahwa Wadah Pelayanan Laki-Laki Sektor Siloam tidak pernah diam dalam pelayanan, melainkan terus bergerak menabur kebaikan di mana pun mereka hadir.
Ketua Wadah Pelayanan Laki-Laki Sektor Siloam, Ronald Jehubijanan, menegaskan bahwa pelayanan ini lahir dari kerinduan untuk saling menopang sebagai sesama orang percaya.

“Kita datang bukan sebagai tamu, tetapi sebagai saudara. Apa yang kami lakukan adalah wujud gereja yang saling menopang dan berkelanjutan,” ujarnya.
Majelis dari Sektor Siloam, Penatua Johanis Sahureka, juga menambahkan bahwa pelayanan seperti ini bukan hanya memperkuat hubungan antarjemaat, tetapi juga mengajarkan makna berbagi yang sesungguhnya.
“Kita semua orang basudara. Di sini kita datang bukan bawa perbedaan, tapi bawa kepedulian,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Koinonia, Ian Sipahelut, menjelaskan bahwa persiapan kegiatan telah berlangsung selama lima bulan sejak panitia dibentuk pada Juni 2025. Ia menyebut seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan baik berkat dukungan penuh PHMJ Jemaat Rehoboth, PHMJ Nukuhai-Pasinalo, pembina koinonia Michael Papilaya (Komisaris Bank Maluku Malut) dari sisi financial dan tenaga, serta PD Panca Karya turut memberikan bantuan dalam pelayanan transportasi penyebrangan PP Huniamua-Waipirit.
“Semua kegiatan berjalan baik karena kita gotong bersama. Ada penanaman bibit, pembuatan batako, pemberian material, hingga malam perkenalan yang jadi momen penuh kehangatan,” ungkap Sipahelut.

Ia menambahkan, program pengobatan mata gratis yang sebelumnya direncanakan dalam rangkaian koinonia akan dilaksanakan pada Januari atau Februari 2026 bekerja sama dengan UPTD Klinik Mata Ambon Vlissingen.
Empat hari pelayanan ditutup dengan sukacita, bukan hanya karena pekerjaan yang diselesaikan, tetapi karena persaudaraan yang dipererat. Siloam Rehoboth pulang dengan hati penuh syukur, sementara Nukuhai-Pasinalo melepaskan dengan doa dan berkat. Sebab di tanah Taniwel itu, kebersamaan telah ditabur, dan kasih telah dirawat sebagai bukti bahwa gereja hidup ketika saling menopang.
