Menutup 2025 dengan Damai, Jemaat Rehoboth Bersiap Sambut Perjamuan Kudus 2026
REHOBOTH – Ibadah Minggu di Gereja Rehoboth, Minggu (28/12), menjadi momentum reflektif bagi jemaat dalam menutup perjalanan iman sepanjang tahun 2025. Ibadah ini sekaligus menjadi ibadah peralihan menuju Perjamuan Kudus yang akan dilaksanakan pada Minggu pertama Januari 2026, tepatnya 4 Januari mendatang.
Firman Tuhan disampaikan oleh Pendeta A. Tahapary dengan dasar Alkitab Mazmur 34:12-15. Dalam khotbahnya, ia mengingatkan bahwa Minggu ini merupakan Minggu terakhir di bulan Desember sekaligus penanda berakhirnya tahun 2025, di mana jemaat telah melalui 52 minggu dengan berbagai pengalaman hidup serta kasih dan penyertaan Tuhan.
Pendeta Tahapary menegaskan bahwa kasih Allah yang telah dialami umat tidak boleh berhenti sebagai pengalaman pribadi, melainkan harus diwujudkan dalam sikap, tindakan, dan tutur kata yang memberitakan cinta kasih Allah bagi semua ciptaan. Hal ini sejalan dengan tema mingguan yang ditetapkan Lembaga Pembinaan Jemaat GPM, “Jadilah Pendamaian dan Berusahalah Mendapatkannya”.
Menurutnya, pendamaian hanya dapat diperoleh melalui hidup yang bersatu dengan Allah di dalam Kristus. Pendamaian tidak hanya menggambarkan relasi antara Allah dan manusia, tetapi juga relasi antar sesama. Di luar Allah, pendamaian sejati tidak mungkin diperoleh.
Mazmur 34:12-15, lanjutnya, berbicara dengan sederhana namun tegas tentang kerinduan manusia akan hidup yang baik, damai, dan diberkati. Firman Tuhan mengarahkan umat pada jalan hidup yang berkenan kepada-Nya, dimulai dari menjaga lidah dan bibir. Kata-kata yang diucapkan tanpa kasih dapat melukai dan merusak relasi dalam keluarga, jemaat, maupun kehidupan bermasyarakat.
Firman Tuhan juga menyerukan agar umat menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik. Hal ini dipahami sebagai panggilan pertobatan untuk meninggalkan dendam, iri hati, kebencian, dan keegoisan, serta secara aktif menghadirkan kasih, keadilan, dan kepedulian dalam kehidupan sehari-hari.
Sejalan dengan tema pemberitaan bulan Desember, “Menjadi Gereja yang Teguh Memberikan Cinta Kasih Tuhan Bagi Semua”, jemaat diingatkan bahwa gereja dipanggil bukan hanya untuk berbicara tentang kasih, tetapi menghidupi kasih itu secara nyata. Damai, menurut Pendeta Tahapary, bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus dicari, diperjuangkan, dan diusahakan.
Di tengah dunia yang sarat konflik dan perpecahan, gereja dipanggil menjadi tanda damai Allah. Panggilan itu dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yakni keluarga, lingkungan sekitar, dan jemaat. Damai menuntut kerendahan hati, keberanian untuk meminta maaf, serta kesediaan untuk mengampuni.
Menutup tahun 2025 dan menyongsong tahun 2026 yang masih menjadi rahasia Allah, jemaat diajak untuk datang kepada Tuhan dengan hati yang dibersihkan. Dalam konteks persiapan Perjamuan Kudus, firman Tuhan mengingatkan bahwa tidak mungkin merayakan kasih Kristus sambil memelihara kata-kata dan sikap yang melukai sesama.
“Kita harus hidup baku bae, jangan baku marah, sebab ketika kita membangun persekutuan, di situ ada janji berkat dan kehidupan,” pesan Pendeta Tahapary.

Dalam ibadah ini, jemaat juga bersyukur atas pelaksanaan Baptisan Kudus bagi dua orang anak, yakni Jan Kewilaa dan Viora Yampapi. Momen tersebut menjadi tanda pengharapan dan pembaruan iman, mengantar Jemaat Rehoboth menutup tahun 2025 dalam damai dan melangkah ke tahun 2026 dengan semangat kasih dan pendamaian. (MCR)
