Berita

Peletakan Batu Penjuru Gereja “Jangkar Iman”, Doa yang Berbuah Setelah 28 Tahun Pergumulan

REHOBOTH – Sebuah sejarah perjalanan panjang yang dilalui Jemaat GPM Rehoboth di Talake sebelum sampai pada momen penuh makna, peletakan batu penjuru pembangunan Gedung Gereja baru yang dinamai “Jangkar Iman.” Sebuah nama yang bukan sekadar simbol, tetapi pengakuan iman atas perjalanan yang berliku selama hampir tiga dekade, sejak 12 November 1997.

Sejarah itu dimulai sederhana dari sebuah aula di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM). Di situlah jemaat Rehoboth Talake pertama kali bersekutu dalam ibadah Minggu. Tahun 1999 menjadi masa yang sulit ketika kampus UKIM tidak lagi dapat digunakan untuk ibadah karena konflik sosial. Jemaat pun harus berpindah ke SMK Negeri 7 Ambon.

Badai konflik sosial di Ambon kala itu membuat persekutuan iman diuji. Tetapi seperti jangkar yang menahan kapal di tengah gelombang, iman jemaat tetap teguh. Tahun 2010, aula UKIM kembali dibuka untuk ibadah, menjadi tempat sementara umat berjumpa dengan Tuhan sambil menantikan sebuah rancangan Tuhan, untuk adanya rumah permanen bagi persekutuan mereka.

Doa yang tak pernah padam itu akhirnya berbuah. Pada 25 September 2023, Pemerintah Kota Ambon yang kala itu masih dijabat Bodewin Wattimena sebagai Pj Wali kota menyerahkan lahan seluas 650 meter persegi di area parkir Christiani Center kepada Sinode GPM untuk pembangunan gereja. Sejak saat itu, harapan baru pun tumbuh, Gereja Jangkar Iman akan berdiri di Talake, di tepi Teluk Ambon, sebagai rumah doa dan simbol kokohnya spiritualitas umat.

Sebelum batu penjuru diletakkan, seluruh proses diawali dalam kesadaran bahwa setiap bangunan rohani harus dimulai dari doa. Ibadah pergumulan digelar pada 1 Oktober di Aula UKIM, dipimpin oleh Pdt. Robby Hatalaibessy. Ibadah ini menjadi momentum perenungan bersama, tempat jemaat menyerahkan seluruh rencana kepada Tuhan.

Keesokan harinya, 2 Oktober, para pemuda bersama Pdt. Robby Hatalaibessy melakukan pengambilan batu penjuru di Kali Negeri Hattu, Kecamatan Leihitu Barat Kabupaten Maluku Tengah. Batu yang diambil bukan sekadar material, ia menjadi lambang kesetiaan, keteguhan, dan harapan bahwa Gereja Jangkar Iman akan berdiri kokoh di atas dasar Kristus sendiri. Pada hari Sabtu tgl 4 Oktober 2025 bertempat di Aula UKIM dilakukan pergumulan persiapan pelaksanaan peletakan batu penjuru yg dilayani oleh Pdt W.D. Tuhumena, M.Th yg dihadiri oleh PHMJ Rehoboth, Majelis Jemaat pada sektor EGAPE, Panitia, Perangkat Pelayan dan umat.

Puncak rangkaian itu terjadi pada Minggu, 5 Oktober, di Aula UKIM. Ibadah peletakan batu penjuru Gereja Jangkar Iman dilayani langsung oleh Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. Elifas Tomix Maspaitella, M.Si

Dalam renungan berdasarkan 1 Petrus 4:7–11, ditegaskan bahwa Yesus Kristus adalah batu penjuru yang mahal harganya, fondasi dari segala kehidupan gereja.

“Kekristenan berdiri karena Yesus sendiri yang menjadi dasar yang teguh,” demikian pesan ibadah.

Jemaat GPM Rehoboth pun diyakinkan bahwa jangkar iman mereka kini tertancap kokoh. Iman yang tidak akan tergoyahkan meski badai datang, karena jangkar itu adalah Kristus sendiri.

Dilanjutkan dengan akta peletakan batu penjuru. Majelis jemaat membawa batu penjuru menuju lokasi pembangunan, bersebelahan dengan Gedung Christiani Center, diiringi tiupan terompet yang memenuhi udara dengan nyanyian pujian.

Tiba dilokasi peletakan, dalam suasana penuh khidmat, Ketua MPH Sinode GPM mengangkat batu dan berdoa “Tuhan, kuduskan batu-batu ini untuk pembangunan gedung Gereja Jangkar Iman ini, dan kuduskan jemaat ini dalam mengerjakannya Demi Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Amin. Kemudian meletakan batu pada lokasi yg telah ditentukan diikuti satu per satu oleh para tokoh dan undangan, Ketua Klasis Pulau Ambon Pendeta W.A. Beresaby, M.Th, Ketua Majelis Jemaat GPM Rehoboth Pdt. W. D. Tuhumena, M.Th, Gubernur Maluku diwakili Kepala Biro Pemerintah Setda Maluku D.N. Kaya, S.Sos, M.Si, Wali Kota Ambon Drs Bodewin Wattimena, M.Si Ketua Panitia pembangunan Nus Soumokil, Ketua Seksi Rekayasa dan Teknik Pnt. Pey Soumokil, Rektor UKIM Dr. Henky Herzon Hetharia, Anggota DPRD Kota Ambon Hadi Mairuhu, Ketua Bakopel Sektor Elim Dkn Eka Soukotta, Ketua Bakopel Sektor Galilea Dkn Neti Tutupary, Ketua Bakopel Sektor Petra Dkn Novi Tanarubun. Dari momen itu, lahirlah keyakinan iman bahwa pembangunan Gereja Jangkar Iman adalah simbol nyata kehadiran Allah yang memanggil umat-Nya menjadi kudus dan memuliakan nama-Nya.

Dalam acara resepsi Ketua MPH Sinode GPM, Pdt. Elifas Tomix Maspaitella, M.Si memaknai peristiwa ini sebagai bagian dari sejarah iman kota Ambon.

“Kalau Benteng Victoria menjadi lanskap pertama pembangunan kota ini, maka Gereja Jangkar Iman adalah simbol bahwa Ambon dibangun di atas nazar doa. Kota ini adalah kota beriman, dan Rehoboth turut menjadi cikal bakal GPM menjadi gereja mandiri yang berakar kuat pada sejarah,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan ini bukan soal target waktu, tetapi soal berjalan bersama Tuhan. “Kita membangun dengan Tuhan dan menyelesaikannya dengan Tuhan, sebab hanya dengan Tuhan kita dapat melakukan hal-hal yang gagah perkasa.”

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa melalui sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Biro Pemerintahan Setda Maluku, D.N. Kaya, S.Sos, M.Si menilai perjalanan iman jemaat Talake sebagai kisah keteguhan dan harapan.

“Dari Aula UKIM, ke SMK Negeri 7, dan kini menuju rumah ibadah sendiri—ini adalah bukti bahwa jemaat tidak pernah menyerah menjaga iman dan persekutuan,” katanya.

Ia menambahkan, Gereja Jangkar Iman menjadi simbol kestabilan iman di tengah guncangan zaman. “Dalam tradisi kemaritiman, jangkar melambangkan keteguhan dan perlindungan. Laut boleh bergelora, tapi kapal yang berjangkar tetap kokoh. Demikianlah iman umat di Talake, teguh dalam Kristus.”

Rumah Iman, Rumah Peradaban

Gedung Gereja yang dirancang bergaya klasik minimalis berbentuk bahtera ini akan menampung sekitar 600 jemaat. Dengan anggaran sekitar Rp5,2 miliar, gereja ini tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memperindah wajah Ambon dalam konsep “Waterfront City”.

Ia akan menjadi rumah iman sekaligus rumah peradaban, melambangkan Maluku sebagai negeri kepulauan yang religius dan damai. Sebagaimana disampaikan Wali Kota Ambon, Drs Bodewin, Wattimena, M.Si “Kalau umat beribadah dengan baik, maka mental, spiritual, dan karakter masyarakat juga akan baik. Gereja Jangkar Iman ini bukan hanya tempat bersekutu, tapi juga benteng moral dan toleransi bagi kota Ambon.”

Kini, setelah 28 tahun pergumulan, Jemaat GPM Rehoboth pada wilayah Talake menatap masa depan dengan keyakinan yang baru. Batu penjuru telah diletakkan, jangkar iman telah tertancap. Dan di setiap doa, jemaat percaya, gereja ini akan berdiri bukan karena kekuatan manusia, tetapi karena kasih dan kuasa Tuhan yang menjadi Batu Penjuru kehidupan. (RMC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *