Berita

Rehoboth Jadi Pionir, Belajar Alkitab Asyik Hadir Lewat Card Games “Benang Merah”

REHOBOTH – Suasana penuh semangat dan keceriaan mewarnai Gereja Rehoboth, Selasa (26/8/2025). Ratusan pengasuh anak dan remaja berbaur dalam sebuah pengalaman belajar firman Tuhan yang berbeda dari biasanya, lewat card games “Benang Merah”, sebuah metode kreatif yang dikembangkan oleh Pdt. Hendra Setia Prasaja, Direktur Binawarga GKI.

Untuk pertama kalinya di Maluku, khususnya di Jemaat Rehoboth, Ambon, para pengasuh diperkenalkan pada permainan edukatif ini. Card games “Benang Merah” dirancang untuk membantu setiap orang, khususnya pengasuh dan pelayan anak, menangkap pesan Alkitab sebagai satu kesatuan kasih Allah.

“Card games ini sederhana, tetapi punya dampak besar. Dengan permainan ini, siapa saja bisa belajar mengamati firman Tuhan dengan cara yang setia pada teks, jelas strukturnya, dan relevan dengan kehidupan,” ujar Pdt. Hendra kepada Tim Media Center usai pembekalan.

Ia menjelaskan, permainan ini dibagi ke dalam tiga tahapan utama. Pertama, Bible Timeline dengan sembilan episode sejarah Alkitab, mulai dari penciptaan, janji Tuhan, perjalanan bangsa Israel, hingga karya Kristus dan pemulihan dalam Wahyu. Kedua, tujuh kartu observasi yang mengajak peserta memperhatikan detail teks Alkitab, nama tokoh, tempat, kata kerja, keterangan waktu, hingga kata-kata yang diulang. Ketiga, Benang Merah Kristus yang menolong pengkhotbah tetap fokus pada Kristus sebagai pusat pewartaan.

“Sering kali khotbah kita hanya berisi moralitas, padahal intinya adalah Kristus. Dengan Benang Merah, para pendeta, penatua, diaken, maupun pengasuh bisa lebih terarah,” tambahnya.

Kegiatan yang dikemas kolaboratif bersama Sub Seksi Anak Remaja dan Katekisasi ini disambut antusias oleh peserta. Mereka tak hanya belajar, tetapi juga bermain dengan gembira, sehingga penggalian firman Tuhan terasa hidup dan menyenangkan.

Pdt. Hendra menutup dengan harapan agar Benang Merah tidak hanya berhenti di Ambon. “Semoga nanti bisa dibawa ke pulau-pulau lain di Maluku. Bukan soal gamenya, tapi bagaimana lewat ini tumbuh kecintaan yang mendalam kepada firman Tuhan,”harapnya.

 

Ditempat yang sama, Pdt. Rita Tuhumena, menekankan bahwa metode ini memberi pembekalan yang kaya bagi para pengasuh.

“Kami berharap, dengan adanya Benang Merah, kapasitas para pengasuh semakin meningkat. Mereka bisa mengajar dan membimbing anak-anak dengan cara yang kreatif dan penuh sukacita,” katanya.

Pdt. Rita berharap dari kegiatan ini dapat meningkatkan kapasitas para pengasuh dalam menerapkan metode tersebut bagi anak-anak di masing-masing kelompok SMTPI sehingga berdampak langsung bagi anak-anak yang mereka asuh.

Hal senada disampaikan Ketua Sub Seksi Anak Remaja dan Katekisasi, Diaken Febby H. Soumokil. Menurutnya, metode ini membantu pengasuh agar tidak monoton dalam menyampaikan materi Alkitab.

“Ada variasi kreatif, ada suasana bermain, sehingga anak-anak lebih mudah menangkap pesan firman Tuhan,” jelasnya.

Dengan langkah kecil namun penuh makna ini, Jemaat GPM Rehoboth menoreh sejarah sebagai titik awal pembelajaran Alkitab yang kreatif di Maluku, membuktikan bahwa firman Tuhan bisa diajarkan dengan cara yang asyik, hidup, dan tetap setia pada kebenaran.

Acara ini ditutup dengan pemberian bingkisan dari Sub Seksi Anak Remaja dan Katekisasi, yang diserahkan langsung Pdt. Tuhumena kepada Pdt. Hendra Setia Prasaja.(TMC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *