Sapulette: Memimpin dengan Melayani, Mengasihi dengan Berkorban, dan Mengajar dengan Keteladanan
REHOBOTH – “Memimpin dengan melayani, mengasihi dengan berkorban, dan mengajar dengan keteladanan”. Kalimat itu menggema dari mimbar utama Gereja Maranatha, Ambon, minggu (26/10/2025), saat Pdt. Sacharias Izack Sapulette, M.Si resmi diteguhkan sebagai Ketua Umum Majelis Pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) masa pelayanan 2025-2030.
Di hadapan ratusan pendeta, penatua, dan anggota jemaat yang memenuhi gedung gereja, Ketua MPH Sinode GPM itu menegaskan arah GPM, kepemimpinan yang tidak didasarkan pada jabatan atau kuasa, melainkan pada pelayanan yang lahir dari kasih dan pengorbanan.
“Kepemimpinan gereja bukan soal posisi, tetapi soal panggilan untuk melayani. Tuhan Yesus memberi teladan itu, dan gereja harus berjalan di jejak yang sama,” ujarnya.
Sapulette menuturkan bahwa dalam lima tahun mendatang, GPM akan meneguhkan visinya sebagai “Gereja yang Berbuah dalam Anugerah Tritunggal Allah.”

Ia mengajak seluruh pelayan dan umat untuk menjadikan gereja bukan sekadar institusi, tetapi komunitas kasih yang bertransformasi, menjawab tantangan zaman dengan iman dan tindakan nyata.
“Buah pelayanan itu tampak ketika gereja hadir di tengah penderitaan umat, membangun yang runtuh, menyembuhkan yang terluka, dan memberi harapan di tengah dunia yang kehilangan arah,” tutur Sapulette.
Dalam arahannya, ia juga menyinggung pentingnya gereja beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk di era digital dan perkembangan teknologi.
Menurutnya, teknologi adalah sarana pelayanan, bukan pengganti kasih. Gereja harus mampu menggunakan kemajuan itu untuk memperluas penginjilan dan pendidikan iman.
Selain itu, GPM akan memfokuskan pelayanannya pada pemulihan keluarga, pendidikan karakter anak, dan pemberdayaan ekonomi umat. Gereja, kata Sapulette, harus hadir sebagai tangan kasih Allah di tengah ketimpangan sosial dan tantangan hidup umat di kepulauan.
“GPM tidak boleh terjebak dalam rutinitas liturgis. Kita dipanggil untuk mengajar dengan teladan, bukan sekadar kata,” tegasnya.
Dengan semangat baru, seluruh jajaran MPH Sinode GPM berkomitmen melanjutkan pelayanan dengan hati yang tulus dan visi yang berakar pada kasih Kristus. Ke depan dengan tekad yang sama Melayani, bukan dilayani. Mengasihi, bukan menuntut dikasihi. Mengajar, bukan sekadar berbicara, tetapi dengan hidup yang memberi teladan. (RMC)
