Berita

Terang Kristus Hadir di Siloam: Dua Unit Rayakan Natal dengan Pesan Damai dan Harapan

REHOBOTH – Dalam dua malam berturut-turut, 8 dan 9 Desember 2025, suasana hangat dan penuh sukacita menyelimuti Sektor Siloam. Jemaat dari Unit 1 dan Unit 2 larut dalam perayaan Natal yang bukan hanya menghadirkan keindahan liturgi, tetapi juga menggugah setiap hati untuk kembali pada makna terdalam kelahiran Kristus, damai, harapan, dan pembaruan hidup.

Unit 1: Damai Kristus yang Menguatkan Hati

Perayaan Natal Unit 1 pada Senin (8/12) dibuka dengan lantunan Kidung DSL No. 33 “Bintang Pengharapan” yang mengantar jemaat memasuki suasana teduh. Pembacaan Nats firman oleh anak-anak dan tarian lilin dai SMTPI Siloam menambah kesyahduan malam ketika seribu lilin dinyalakan, melambangkan terang Kristus yang menembus kegelapan dunia.

Dalam khotbah yang diambil dari Yesaya 9:1-6, Pendeta Ivon Septory/Sinay menegaskan bahwa damai Kristus bukan hanya untuk dirayakan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

“Damai itu harus dibawa pulang ke rumah, keluarga, pekerjaan, dan pelayanan,” ujarnya, mengingatkan jemaat agar tidak hanya mendengar firman tetapi menghidupinya.

Nuansa kasih terasa melalui pembagian bingkisan kepada janda, lansia, dan anak-anak yang rajin beribadah.

Ketua Unit 1, Jhon Sopacua, menambahkan bahwa damai sejati bermula dari keluarga. “Jika kita berdamai dalam keluarga, damai itu akan terpancar keluar,” katanya.

Ketua Bakopel, Nona Sopacua, mengajak umat menjaga ketulusan, “Kasih itu jangan pura-pura. Damai lahir dari hati yang berdamai,”ujarnya.

Ibadah ditutup dalam kehangatan persekutuan, meninggalkan kesan bahwa terang Kristus sungguh hadir di tengah jemaat.

Unit 2: Drama Kehidupan dan Ajakan Meruntuhkan Benteng-Benteng Diri

Keesokan harinya, Selasa (9/12), Unit 2 merayakan Natal. Ibadah dibuka dengan drama pendek tentang pergumulan manusia, kegelisahan seorang ibu, kesedihan pengungsi, dan keputusasaan seorang pemuda. Drama itu menjadi cermin bahwa hidup tak lepas dari gelap dan luka, namun Natal datang sebagai terang yang memulihkan.

Cahaya lampion dan lilin yang dinyalakan satu per satu memenuhi ruangan, simbol bahwa Kristus hadir bagi hati yang retak oleh pergumulan hidup.

Drama kelahiran Yesus, serta penampilan anak-anak kembali membawa jemaat pada kehangatan Bethlehem.

Dalam khotbahnya dari Mazmur 24:1-10, Pendeta Wem Pariama menantang jemaat untuk berani berubah.

“Yesus datang untuk membongkar benteng-benteng dalam hidup kita, dosa, kebiasaan buruk, dan ketidakpedulian,” tegasnya.

Natal, katanya, bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan undangan untuk pembaruan diri.

Ketua Unit 2, Oni Latuperissa, mengajak jemaat memasuki tahun pelayanan baru dengan semangat sorong bahu.

Penatua Yeni Sahureka menegaskan bahwa meski pelayanan belum sempurna, ketulusan tetap menjadi fondasinya.

Bingkisan Natal kemudian dibagikan kepada para pelayan dan seluruh umat, sebagai tanda kasih yang konkret.

Siloam dalam Satu Suara: Damai Kristus untuk Semua

Dua perayaan di dua unit berbeda itu menghadirkan pesan yang sama: terang Kristus tidak berhenti pada nyala lilin atau indahnya liturgi, tetapi harus dinyatakan dalam hidup sehari-hari, di rumah, di tengah masyarakat, dan dalam pelayanan.

Natal di Sektor Siloam tahun ini bukan hanya perayaan, tetapi undangan bagi jemaat untuk membawa pulang terang Kristus, terang yang menenangkan hati gelisah, memulihkan luka, dan menumbuhkan harapan baru bagi semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *