Gotong Royong Sektor Elim, Petra Dan Galilea Jemaat Rehoboth untuk Pembangunan Gereja “Jangkar Iman”
REHOBOTH – Setelah hampir tiga dekade pergumulan panjang, harapan itu kini mulai tampak nyata. Jumat (5/9/2025), jemaat dari tiga sektor Gereja Protestan Maluku (GPM) Rehoboth, Elim, Petra, dan Galilea turun tangan bersama-sama membersihkan lahan yang akan menjadi lokasi berdirinya Gedung Gereja “Jangkar Iman”. Dengan peralatan sederhana, umat lintas sektor itu bahu-membahu menata tanah dan merapikan semak belukar.
Kegiatan ini bukan sekadar kerja fisik. Pembersihan tersebut merupakan bagian dari persiapan menuju momen penting, peletakan batu penjuru pembangunan gedung gereja, yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Oktober 2025 mendatang. Ibadah peletakan batu penjuru akan dipimpin dalam kebaktian sore pukul 15.00 WIT, setelah melalui komunikasi antara Ketua Majelis Jemaat, Ketua Majelis Jemaat Rehoboth, hingga konsultasi dengan Ketua Sinode GPM.
Ketua Panitia Pembangunan Gereja Jangkar Iman, Nus Soumokil, tak bisa menyembunyikan haru saat ditemui di sela-sela kerja bakti. Menurutnya, pembangunan gereja ini adalah jawaban doa panjang jemaat yang telah menanti hampir tiga dekade.

“Pergumulan ini bukan sebentar. Sejak ibadah pertama di UKIM pada 12 November 1997, sudah 28 tahun kita berjuang dan berdoa supaya di Tanah Lapang Kecil (Talake) berdiri sebuah gedung gereja. Puji Tuhan, Pemkot Ambon akhirnya mengalokasikan tanah seluas 650 meter bujur sangkar untuk pembangunan. Dan kini, kita bersiap untuk meletakkan batu penjuru. Nama ‘Jangkar Iman’ sendiri berarti kekuatan, keteguhan, dan pengabdian bagi umat di sini,” ungkap Soumokil.
Ia menambahkan, dengan adanya gedung gereja ini, proses pembinaan, penggembalaan, dan pelayanan umat di Jemaat Rehoboth, khususnya Talake, dapat lebih maksimal.
“Kami berharap ada dukungan luas, bukan hanya dari jemaat tiga sektor, tetapi juga dari masyarakat, pemerintah, dan semua pihak yang peduli dengan pembangunan ini,” ujarnya.
Di sisi lain, suasana gotong royong turut menghadirkan semangat kebersamaan lintas sektor. Charles Latupeirissa, salah seorang jemaat yang ikut dalam kerja bakti, mengungkapkan rasa bangganya bisa terlibat langsung.

“Motivasi katong datang kerja bakti ini karena rasa kebersamaan. Beta rasa kontribusi ketiga sektor sangat besar, bukan hanya datang lihat, tapi betul-betul turun tangan. Ini bukan sekadar bersihkan lahan, tapi juga membangun tali persaudaraan. Harapan beta, gereja ini nantinya bukan hanya jadi gedung, tapi jadi tempat katong cari Tuhan, puji Tuhan, dan satukan perbedaan,” katanya dengan penuh harap.
Kerja bakti ini ditutup dengan doa singkat, mengingatkan semua jemaat bahwa setiap tetes keringat yang tercurah hari itu adalah bagian dari fondasi spiritual pembangunan Gereja Jangkar Iman. Bagi mereka, membangun gereja bukan sekadar membangun tembok, melainkan membangun persaudaraan dan meneguhkan iman di tengah dinamika kehidupan jemaat.
“Di gereja ini nantinya, katong semua dari tiga sektor akan dipersatukan. Perbedaan akan dipertemukan dalam satu ikatan iman yang kokoh,” pungkas Charles.(RMC)
