GPM Sentuh Warga Binaan di Lapas Ambon: Pelayanan Kasih Menyongsong HUT ke-90
REHOBOTH – Suasana berbeda terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Ambon dan Lapas Kelas IIB Ambon, Kamis (5/9/2025). Bukan sekadar rutinitas, namun pelayanan kasih yang dibawa oleh Seksi PIPK, Sub Seksi Hukum dan Advokasi, bersama Pendeta Ever Tamtalaihitu hadir memberi penguatan iman bagi warga binaan yg juga warga jemaat GPM Rehoboth.
Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian HUT GPM ke-90 tahun, yang tahun ini mengambil tema Gereja yang menabur, bertumbuh dan berbuah, karena kasih Tuhan. pelayanan ini dimaksudkan untuk bergandeng tangan untuk merajut kasih dan damai, Bagi para warga binaan. Momentum ini bukan hanya sekadar ibadah bersama, melainkan tanda nyata bahwa mereka tidak dilupakan oleh gereja, sekalipun sedang menjalani masa hukuman.
“Ini adalah kunjungan ketiga dalam tahun pelayanan 2025. Kami ingin menegaskan bahwa kasih Kristus tidak terbatas oleh tembok penjara. Saudara-saudara kita yang ada di sini tetap bagian dari tubuh Kristus, tetap punya martabat, dan tetap mendapat tempat di hati gereja,” ujar Pendeta Ever Tamtalaihitu dalam sapaan pastoralnya.

Program ini merupakan salah satu fokus Sub Seksi Hukum dan Advokasi jemaat GPM Rehoboth yang tidak hanya memberi penguatan rohani, tetapi juga pendampingan hukum bagi warga binaan jemaat. Dalam pelayanan itu, doa-doa dipanjatkan, pujian dinaikkan, dan firman Tuhan disampaikan untuk menguatkan iman mereka.
Bagi warga binaan, kunjungan ini menjadi momen penuh haru. Mereka merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
“Sungguh beta rasa terharu, karena gereja masih ingat katong. Ini jadi kekuatan untuk jalani hari-hari di sini dengan pengharapan baru,” ungkap salah satu warga binaan dengan mata berkaca-kaca.

Pelayanan kasih di balik jeruji ini menegaskan pesan HUT GPM ke-90, bahwa gereja hadir untuk semua lapisan, termasuk mereka yang sering dianggap terpinggirkan. Bahwa dalam terang iman, setiap orang memiliki kesempatan kedua untuk bangkit dan membangun hidup baru.
Kunjungan ini juga menjadi refleksi bahwa keadilan, dan kasih tidak boleh berhenti di luar pagar Lapas. Gereja terpanggil untuk memastikan bahwa warga binaan tidak kehilangan harapan, sekaligus memberi mereka ruang untuk tetap terhubung dengan komunitas iman.
“Gereja harus menjadi rumah yang memulihkan. Inilah pesan 90 tahun perjalanan GPM, bahwa pelayanan bukan hanya di gedung gereja, tetapi di mana ada jiwa yang haus akan kasih dan pengharapan,” tutup Pendeta Tamtalaihitu. Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama dan penyerahan tanda kasih (RMC)
