Berita

Semester Baru, Semangat Baru: Anak-Anak Rehoboth Belajar Hidup Dalam Kasih Kristus

REHOBOTH – Keceriaan memenuhi Gedung Gereja GPM Rehoboth, Minggu (26/10/2025), saat Sekolah Minggu Gabungan SMTPI Jemaat GPM Rehoboth, Klasis Pulau Ambon, menggelar ibadah pembukaan semester genap tahun pelajaran baru. Ibadah ini menjadi momen penuh sukacita bagi anak-anak, pengasuh, yang hadir memenuhi ruang gereja.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Komisi Anak dan Remaja Jemaat GPM Rehoboth ini menandai dimulainya semester baru setelah penutupan semester ganjil. Pelayanan ibadah dipercayakan kepada SMTPI Bethesda, yang memimpin jalannya ibadah dengan semangat pelayanan dan keceriaan khas anak-anak.

Dalam ibadah tersebut, seorang anak menampilkan cerita berjudul “Suri Ikun dan Dua Burung dari Nusa Tenggara Timur”, yang dibawakan oleh Sifa Nara. Cerita itu mengandung pesan moral tentang kasih, persahabatan, dan kepedulian terhadap sesama.

Tak hanya itu, anak-anak juga dengan penuh semangat menyanyikan lagu-lagu pujian seperti “Dengar Nama Saya” dan “Setinggi-tingginya Langit”, sambil bertepuk tangan dan menari kecil dengan wajah berseri-seri.

Firman Tuhan diambil dari Matius 5:13-16, dan dibawakan oleh Pendeta R. Tuhumena, yang mengangkat tema penting tentang garam dan terang dunia.

Dalam renungannya, Pdt. Tuhumena menjelaskan bahwa garam bukan hanya bumbu yang membuat makanan enak, tetapi juga lambang dari kehidupan orang percaya yang memberi rasa bagi dunia.

“Kalau garam hambar, maka tidak berguna. Orang Ambon bilang, garam yang dibuang ke laut, lautnya sudah asin, jadi sama saja tidak ada rasa. Begitu juga dengan hidup kita kalau tidak memberi dampak baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Pdt. Tuhumena mengajak anak-anak mengenal makna terang dunia. Ia berkata, “Terang itu seperti pelita yang dinyalakan di malam hari, diletakkan di tempat gelap supaya menerangi sekelilingnya,”ucapnya.

Dalam sesi interaktif, Pendeta mengajukan pertanyaan kepada anak-anak dan pengasuh tentang contoh-contoh menjadi terang dan garam di kehidupan sehari-hari. Dua anak dari jenjang remaja SMTPI Bethesda menjawab dengan yakin mengutarakan, “Menjadi terang itu berarti tidak mudah terpengaruh dalam pergaulan, tapi bisa mengubah teman menjadi lebih baik.”

Pendeta kemudian menambahkan contoh lain, menjadi garam berarti merangkul teman yang berbuat salah, bukan memarahi atau menjauhinya.

“Kalau teman buat salah, jangan bamaki (memarahi). Itu tidak bagus, dosa. Tapi coba bantu dia supaya sadar dan berubah. Itulah garam,” ujarnya lembut.

Menjelang akhir ibadah, Pdt. Tuhumena mengajak seluruh anak berdiri dan mengucapkan komitmen bersama “Aku adalah Garam. Aku adalah Terang. Garam dan Terang akan menjadikanku anak yang istimewa.”

Ia menegaskan bahwa anak-anak yang hidup dalam kasih dan menjadi garam serta terang bagi sesama adalah anak-anak yang diperhatikan dan dipedulikan Tuhan Yesus.

Ibadah ditutup dengan doa. Senyum polos anak-anak dan semangat mereka menjadi gambaran indah dari iman yang terus bertumbuh, iman yang sederhana, tulus, dan penuh sukacita di tengah keluarga besar Jemaat GPM Rehoboth. (RMC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *